Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah (21 H – 110 H)

الحسن البصريTaufikHamim – Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah (21 H – 110 H)

Zuhud merupakan kedudukan yang luhur, sungguh indah apa bila manusia bersifat zuhud dan tidak memiliki keinginan terhadap yang ada di tangan orang alin. Karena itu, Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah patut mendapat pujian dari orang-orang sezamannya.

Al-Hasan Al-Bashri adalah rambu-rambu yang berwujud manusia di muka bumi. Dia adalah teladan yang amal dan perilakunya dilihat orang banyak. Dia juga tuan yang perintahnya ditunggu oleh banyak manusia.

DR. ‘Aidh Al-Qarni dalam bukunya Hakadza Haddatsana Az-Zaman berkata : “Aku berpesan padamu untuk membaca kisah hidup orang-orang shalih, para Shahabat Nabi, Tabi’in, Ahli ibadah dan kezuhudan dari kalangan Ahlussannah”,

Berhentilah sejenak pada kabar-kabar mereka, dan bacalah perjalanan hidup mereka. Karena itu akan memompa kekuatan semangatmu, menorehkan kehausan untuk meneladani mereka. Atau setidaknya membuatmu malu terhadap dirimu sendiri, malu kepada Tuhanmu saat engkau membandingkan hidup mereka dengan hidupmu sendiri.

Maka taburilah kisah-kisah mereka. Hiduplah bersama mereka dalam kezuhudan, kewara’an, penghambaan, rasa khauf pada Allah, ketawadhuan, keindahan pekerti dan kesabaran mereka”.

Kelahiran, Kehidupan keluarga, Pendidikan

Al-Hasan Al-Bashri lahir pada tahun 21 H di kota madinah, dipenghujung masa kekhalifahan Umar bin khattab radhiyallahu anhu ayahnya bernama yasar, seorang budaknya Zaid bin tsabit Al-Anshari radhiyallahu anhu, ibunya bernama khairah, seorang budaknya Ummu Salamah, isteri Rasulullah shallallahu aliahi wasallama.

Sejak kecil Al-Hasan Al-Bashri sudah terdidik di rumah Ummul Mukminin, Ummu Salamah yang sangat mencintai Al-Hasan kecil, di mana saat itu rumah-rumah para isteri Rasulullah shallallahu aliahi wasallama satu sama lain saling berdekatan. Si Al-Hasan kecil selalu berpindah-pindah dari satu rumah salah seorang isteri Rasulullah shallallahu aliahi wasallama ke rumah yang lainnya. Dan dia banyak mendapatkan pendidikan dari mereka, -sehingga dia memiliki akhlaq yang amat mulia- khususnya dari Ummu Salamah radhiyallahu anha, yang dikenal sebagai salah seorang yang banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu aliahi wasallama.

Pada masa mudanya, sebelum umurnya menginjak 14 tahun, Al-Hasan Al-Bashri telah hafal Al-Qur’an. Dan dia juga mendapatkan kesempatan emas untuk menggali pengetahuan tentang Sunnah Nabawiyyah, serta meriwayatkan dari beberapa shahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallama, antara lain Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abu Musa Al-Asy’ari, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Anas bin Malik, Jabir bin Abdillah dan lainnya.

Ketika Al-Hasan berumur 14 tahun dan memasuki usia remaja, ia pindah bersama ayahnya ke Bashrah dan menetap di sana bersama keluarganya. Dan dari sinilah kenapa di akhir namanya dicantumkan Al-Bashri, yaitu nisbat pada kota Bashrah sehingga dikenal banyak orang dengan sebutan Al-Hasan Al-Bashri.

Ketika pindah ke sana kota Bashrah merupakan benteng ilmu terbesar di negeri Islam. Masjidnya yang agung penuh dengan pembesar-pembesar shahabat dan tabi’in. Berbagai kajiam ilmu meramaikan ruagan masjid.

Al-Hasan menetap di masjid dan mengikuti secara khusus pengajian yang dipandu Abdullah bin Abbas, seorang ulama terkemuka umat Islam. Darinya dia belajar tafsir, hadits dan qira’at, fiqh, bahasa, sastra dan lainnya. Dan kemudian dia menjadi seorang alim dan ahli fiqih, karenanya banyak yang datang berguru padanya.

Sifat dan keutamaannya

Al-Hasan Al-Bashri terkenal sebagai ulama yang berpengetahuan sangat luas, baik baik dalam bidang tafsir maupun hadits. Ia bagaikan seorang dokter berpengalaman telah menjalankan praktek pengobatan dalam waktu yang cukup lama.

Selain itu ia juga sangat fasih, logikanya indah, memiliki daya gugah terhadap pendengarannya. Ia juga sangat jujur dalam kebenaran, pemberani, tidak takut terhadap resiko yang ditimbulkan oleh perkataan dan perbuatannya, dimana sifat inilah yang menjadi rahasia pengaruh dalam hati, ketersihiran dan ketundukan banyak manusia kepadanya. Ia memiliki perasaan yang kuat, semangat yang menyala-yala, sosok yang pada dirinya bertabur butir keikhlasan, mensinergikan antara kefasihan lisan dan kekuatan iman, benar-benar meyakini apa yang diucapkannya, serta berbuat sesuai dengan apa yang dia yakini, apa yang ia ucapkan benar-benar keluar dari dasar hati, maka tutur katanya pun menyentuh sampai ke dasar hati.

Kisah Seorang Pengemis

Suatu hari setelah shalat zhuhur, seorang pengemis mengetuk pintu Al-Hasan, mendengar ketukan itu pembantunya segera datang dan membuka pintu. Dari dalam, Al-Hasan berkata : “Siapa yang mengetuk pintu?”, Seorang pengemis tuan”, jawab pembantunya. “Berilah makanan yang kita punya”, sahut Al-Hasan Al-Bashri. Sementara di rumah itu hanya ada sepuluh butir telur, pembantu itu segera memberikan sembilan butir saja, sementara satu butir lagi disimpan lagi ia simpan untuk jaga-jaga jika kelaparan.

Ketika sang pengemis telah pergi, terdengar ketukan kembali, Al-Hasan Al-Bashri bertanya : “Siapa yang mengetuk pintu?”. “Tamu, wahai Imam”, jawab pembantu. “Persilahkan masuk dan lihat apa yang sedang ia bawa”. ” Beliau membawa sembilan puluh butir telur tuan”, jawab pembantunya. Sambil menggeleng-geleng kepala, Al-Hasan Al-Bashri berkata : “Kamu telah menahan sepuluh butir telur untuk kita, apa kamu tidak tahu bahwa Allah telah berfirman :

” Barangsiapa membawa amal yang baik, Maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya…”

Mulai Dari Dirimu

Pada hari jum’at, sebelum Al-Hasan naik mimbar, ia didatangi seorang laki-laki, membisikan sesuatu ketelinganya: “Wahai Imam, berbicaralah tentang keutamaan membebaskan hamba sahaya, dan anjurkanlah mereka untuk melakukannya”.

Lalu orang itu berlalu di antara para jama’ah, mendengarkan khuthbah Al-Imam, anehnya dia tidak berbicara sama sekali tentang masalah pembebasan budak. Jum’at demi jum’at berlalu,….pada jum’at keempat barulah Al-Hasan menganjurkan jama’ah untuk melakukan hal itu, laki-laki itu dangan heran dengan tindakan Al-Hasan.

Al-Hasan menjawab : “Saudaraku, tidak layak bagi saya untuk berbicara di hadapan jama’ah, hingga saya berusaha mencari uang, dan pergi ke pasar untuk membeli budak untuk dibebaskan, apa anda ingin saya termasuk dalam daftar yang diperingatkan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya :

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka apakah kamu tidak berpikir?”.

Komentar Ulama Tentang Al-Hasan Al-Bashri

Tidak sedikit para ulama salaf, baik yang semasa dengan Al-Hasan Al-Bashri maupun mereka yang hidup setelahnya, memberikan komentar yang indah terhapap sepak terjang yang pernah dilakukan semasa hidup sang pencetus dan peletak prinsip-prisip kezuhudan, berikut komentar mereka :

Al-A’masy berkata : “Al-Hasan Al-Bashri selalu menyimpan hikmah di dalam dirinya sehingga ia ungkapkan”.

Ayyub As-Sakhtiyani berkata kepada Sufyan bin Uyainah : “Jika Anda melihat Al-Hasan, pasti anda akan berkata bahwa anda belum pernah bertemu dengan seorang faqih sama sekali”.

Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali berkata : “Perkataan Al-Hasan Al-Bashri – semoga Allah merahmatinya – paling mirip dengan perkataan kenabian, dan paling dekat dengan petunjuk para shahabat radhiyallahu anhum, semua pendapat menyepakati kebenaran hal ini”.

Rabi’ bin Anas berkata : “Aku berguru kepada Al-Hasan Al-Bashri hampir sepuluh tahun, tiada hari kecuali aku mendengar hal yang hal yang belum pernah aku dengar sebelumnya.

Muhammad bin Sa’ad berkata : “Al-Hasan merupakan ulama yang menguasai ilmu secara integral, alim, tinggi, faqih, dipercaya, kata-katanya menjadi referensi, jujur, ahli ibadah, fasih, baik dan tampan”.

Peletak Prinsip-Prinsip Zuhud

Al-Hasan Al-Bashri terus bergerak mengajak orang kepada zuhud dan ketaqwaan, bisa disebut bahwa ia merupakan orang yang pertama yang meletakan prinsip-prinsip zuhud, metode muhasabah diri, serta mengangkat posisi khauf dan raja’ ( harap dan camas ).

Pernah suatu hari ada seseorang yang ingin memilki sifat zuhud seperti Al-Hasan, kewara’an Ibnu Sirin, ibadahnya Amir bin Abdul Qais, dan kefaqihan sa’id ibnul Musayyib. Ternyata dia mendapati semua sifat ini berkumpul pada diri Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah.

Belia sering berkata : “Sesungguhnya harap dan cemas merupakan tiang pokok penyanggah bagi seorang mu’min, dengan catatan bahwa cemas baginya lebih kuat dari harap, karena jika harap lebih dominan dari cemas. Akan mengakibatkan rusaknya hati.

Ia juga berkata : “Sesungguhnya seorang mu’min akan merasa sedih di pagi dan sore hari, dan tidak ada jalan lain kecuali itu, karena sesungguhnya ia akan selalu berada diantara dua ketakutan, antara dosa yang telah lalu, dia tidak tahu apakah yang akan diperbuat oleh Allah terhadapnya, dan masa yang tersisa, yang dia tidak tahu mushibah apa yang bakal menimpanya”.

“Wahai anak manusia injakkan kakimu ke bumi, karena sebentar lagi engkau akan menginjak kuburmu, engkau akan menghancurkan umurmu begitu begitu engkau keluar dari rahim ibumu”.

“Wahai anak manusia, sesungguhnya engkau adalah hari-hari, semakin hari itu pergi maka sebagian dirimu telah pergi”.

Tidak hanya berhenti di sini, Al-hasan Al-Bashri dengan gigih memerangi penyelewengan, ketamakan, serta mengajak orang sekitarnya untuk meninggalkan ambisi untuk mendekati orang-orang kaya, selalu mendatangi para raja penguasa.

Al-Hasan Al-Bashri dan Permasalahan Umat

Kehidupan Al-Hasan Al-Bashri tidak hanya berkisar pada masjid dan  mengajar. Beliau juga terlibat dalam berbagai permasalahan umat. Dia menjadi hakim di kota Bashrah. Ia bahkan salah seorang hakim yang populer yang menjadi kebanggaan sejarah kota ini. Al-Hasan Al-Bashri adalah seorang hakim yang langka yang memandang permasalahan denga kacamata fiqih seorang ulama uamng mumpuni, sehingga keputusan-keputusan hukumnya begitu tepat dan adil.

Al-Hasan Al-Bashri dan Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi

Ketika Al-Hajaj ats-Tsaqofi memegang kekuasan gubernur Iraq, ia terkenal akan kediktatorannya. Perlakuannya terhadap rakyat terkadang sangat melampaui batas. Nyaris tak ada seorang pun penduduk Basrah yang berani mengajukan kritik atasnya atau menentangnya. Al-Hasan Al-Bashri adalah salah satu di antara sedikit penduduk Basrah yang berani mengutarakan kritik pada Al-Hajjaj. Bahkan di depan Al-Hajaj sendiri, Al-Hasan Al-Bashri pernah mengutarakan kritiknya yang amat pedas, dan membeberkan buruknya perbuatan Al-Hajjaj dihadapan orang-orang dan berkata benar di depannya.

Diantara contohnya, Al-Hajjaj membangun suatu bangunan di daerah Wasith untuk kepentingan pribadinya. Ketika bangunan tersebut rampung, Al-Hajjaj mengajak orang-orang agar keluar untuk bersenang-senang bersamanya dan mendoakan keberkahan untuknya.

Rupanya, Al-Hasan Al-Bashri tidak ingin kalau kesempatan berkumpulnya orang-orang ini lewat begitu saja. Dia keluar menemui mereka untuk menasehati, mengingatkan, mengajak zuhud dari bergelimang harta dunia dan menganjurkan supaya mencari keridhaan Allah.

Ketika sampai di tempat, dan melihat orang-orang berkumpul mengelilingi istana yang megah, dia berdiri di depan mereka dan berceramah banyak. Diantara yang dia ucapakan adalah : “Kita telah melihat apa yang dibangun oleh manusia paling keji ini tidak ubahnya seperti apa yang kita temukan pada masa Fir’aun yang telah membangun bangunan yang besar dan tinggi, kemudian Allah membinasakan Fir’aun dan menghancurkan apa yang dia bangun dan di kokohkan itu. Mudah-mudahan Al-Hajjaj mengetahui bahwa penduduk langit telah mengutuknya dan bahwa penduduk buki telah menipunya”.

Dia terus berbicara dengan gaya seperti ini, sehingga salah seorang yang hadir merasa khawatir kalau al-Hajjaj akan menyiksanya. Karena itu, orang tadi berkata kepadanya : “Cukup wahai Abu Sa’id! Cukup!”.

Al-Hasan Al-Bashri berkata : “Allah telah mengambil perjanjian kepada Ahli ilmu, bahwa dia akan menjelaskannya kepada manusia dan tidak menyembunyikannya”.

Keesokan harinya, Al-Hajjaj memasuki ruangannya dengan menahan amarah, lalu berkata kepada orang-orangnya : ” Celakalah engkau! Seorang hamba sahaya milik penduduk Bashrah berdiri dan berkata tentang kita seenaknya, Lalu tak seorang pun membalasnya dan mengiungkarinya! Demi Allah, aku akan menyiramkan darahnya kepadamu wahai para pengecut!”. lalu dia menyuruh supaya pedang dan kain alas untuk darah dihadirkan, selanjutnya dia memerintahkan orangnya untuk membawa Al-Hasan Al-Bashri untuk menghadapnya.

Tak lama kemudian datang lah Al-Hasan, seluruh pandangan orang tertuju padanya, hati-hati mereka bergetar.

Ketika melihat pedang dan alas darah, Al-Hasan menggerakan kedua bibirnya. kKemudian menghadap Al-Hajjaj dengan penug izzah seorang mu’min, kewibawaan Islam dan keteguhan seorang da’i yang menyeru kepada Allah.

Ketika Al-Hajjaj melihatnya dengan kondisi seperti itu, dia menjadi sangat gentar, lalu berkata padanya : “Kemari wahai Abu Sa’id! kemarilah!”.

Orang-orang yang menyaksikan hal itu kaget dan heran. Al-Hajjaj lalu mempersilahkannya dudk di atas permadaninya.

Begitu hasan duduk, Al-Hajjaj menoleh ke arahnya dan mulai menanyakan berbagai permasalahan agama kepadanya. Sementara Al-Hasan menjawab setiap pertanyaan tersebut dengan mantap dan pasti. Penjelasan yang diberikannya demikian memikat, bersumber dari ilmu yang mumpuni.

Al-Hajjaj berkata kepadanya : “Engkau adalah tuan para ulama, wahai Abu Sa’id”.

Kemudian dia meminta supaya dibawa kehadapannya beberapa macam minyak wangi, lalu meminyaki jengot Al-Hasan.

Ketika Al-Hasan Al-Bashri keluar, pengawal Al-Hajjaj mengikutinya dan berkata kepadanya : “Wahai Abu Sa’id! sungguh, Al-Hajjaj memanggil anda bukan untuk tujuan seperti yang baru saja ia lakukan. Aku melihatmu ketika menghadap dan memandangi pedang dan kain alas darah, seakan menggerakan kedua bibir, apa yang engkau baca?”.

Al-Hasan menjawab : “Aku telah membaca :

“Wahai pembela nikmatku, dan Pelindungku pada saat aku dalam bahaya, jadikanlah siksanya dingin dan keselamatan padaku, sebagaimana Engkau telah menjadikan api menjadikan api menjadi dingin dan keselamtan kepada Ibrahim”.

Sikap Al-Hasan Al-Bashri ini sering terjadi terhadap penguasa dan pejabat. Dia keluar dari setiap kejadian tersebut dalam kondisi agung di mata penguasa dan terjaga di bawah naungan perintah Allah.

Ali bin Yazid bin Jad’an berkata : “ketika kami berada di sisi Al-Hasan Al-Bashri, sedang dia sedang bersembunyi di rumah Abi Khalifah Al-Abdi, datang seorang laki-laki lalu berkata : “Wahai Abu Sa’id, Al-Hajjaj telah meninggal, maka dia pun langsung sujud”.

Kembali keharibaan Allah subhanahu wata’ala

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah menapaki kehidupan dunia selama 88 ahun. Dia isi lembaran hidupnya dengan menaati Allah Ta’ala dan persiapan untuk berjumpa dengan-Nya sampai tiba detik-detik yang ditunggu-tunggu oleh para kekasih Allah dan yang tidak diharapkan kedatangannya oleh para musuh-Nya yang menentang agama-Nya. Al-Hasan Al-Bashri adalah orang yang selalu waspada terhadap detik-detik ini. Bekal dan kendaraan telah dipersiapkan untuknya.

Pada malam jum’at tanggal 1 Rajab 110 H, Al-Hasan Al-Bashri memenuhi panggilan Allah subhanahu wata’ala maka ketika pagi menyingsing, dan orang-orang mulai medengar berita kematian, kota bashrah berguncang dengan kematiannya.

Seorang laki-laki menemui Muhammad bin Sirin, dan berkata kepadanya : “Al-Hasan telah wafat”. Maka secara sepontanitas Ibnu Sirin mendoakan untuknya agar mendapatkan rahmat dari Allah, wajahnaya berubah, serta diam seribu bahasa, tidak berbicara sampai tenggelamnya matahari, orang-orang pun mencoba untuk tidak berbicara dengannya karena kesedihan yang mereka lihat di wajahnya. (dari berbagai sumber)

cropped-th.jpegUst. H. Taufik Hamim Effendi, Lc., MA

Note: Bila artikel ini bermanfaat silahkan segera share agar anda juga mendapat aliran pahala yang takkan pernah henti insya Allah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

7 + 1 =