Berdekatan Dengan Calon Penghuni Surga

surgaTaufik Hamim – Berdekatan Dengan Calon Penghuni Surga

Tiba-tiba saja, saya merasa kangen plus iri berat sama sosoknya ‘Ammar bin Yasir..Hehe, serasa udah kenal aja ya..

Iri banget dengan sosok Amar.. seseorang yang mendapatkan referensi dari Rasulullah untuk diikuti.. Rasul bilang, ”Contoh dan ikutilah setelah kematianku nanti Abu Bakar dan Umar dan ambillah pula hidayah yang dipakai ‘Ammar untuk Jadi bimbingan!” Dan memang benar, selepas wafatnya Rasul, ’Ammar kerap dijadikan sebagai pembenar sebuah prilaku.. top-lah..

Gak hanya itu, saking sayang nya Rasul kepada Amar, Rasul pun membela ’Ammar ketika terjadi selisih paham ’Ammar dengan Khalid bin Walid. Bahkan, Rasul bersabda, “Siapa yang memusuhi ‘Ammar, maka ia akan dimusuhi Allah, dan siapa yang membenci ‘Ammar, maka ia akan dibenci Allah!”

Iri dengan pribadi ‘Ammar, seorang dengan tubuh tinggi, bahu bidang dan bermata  biru, serta terkenal karena sifatnya yang pendiam dan tak suka banyak bicara.. Rasulullah pun berkali-kali memujinya, hingga mengatakan, “Diri ‘Ammar dipenuhi keimanan sampai ke tulang punggungnya…..!”

Hem..bertubi-tubi pembelaan Rasulullah itu pastilah mengandung suatu makna besar. Makna bahwa ‘Ammar bin Yasir bukanlah seorang “sahabat biasa”. Tak sekedar ia merupakan seorang yang sudah dijamin masuk Syurga barengan dengan uminya (Summayah) and abinya (Yasir bin Amir). Ataupun bukan sekedar seorang yang sangat halus sekali perasaannya, sehingga ia dapat merefleksikan ucapan dibawah alam sadarnya ketika mengikuti ucapan para kaum quraisy untuk menuhankan tuhan mereka ketika ia disiksa (dengan siksaan yang ga bisa bayangin dengan pikiran kita) dan menyebabkan hatinya menangis..

Bisa jadi karena ’Amar merupakan golongan sabiqunal awwalun yang telah tertempa begitu banyak ujian fisik dan psikologis.. panasnya padang pasir, api, maupun batu besar di atas punggungnya tidaklah menjadi halangan baginya untuk mentauhidkan Allah.. pemandangan siksaan ayah dan ibunya yang dibunuh dengan sekejam-kejamnya pembunuhan (yang mengantarkan ibunya sebagai syahidah pertama) juga tak menjadi kejeraan baginya untuk memanaskan hati para kafir bani makhzum agar tak terpenuhi keinginan mereka untuk memurtadkan dirinya.

Barangkali kembali, karena ‘Ammar memiliki kedekatan kepada Allah yang begitu kuat.. sehingga ketika ia sedang sedih2nya karena merasa dirinya sudah keluar dari Ad Diin ini, Allah langsung menjawab jeritan hatinya itu, seperti yang dijelaskan dipotongan Q.S. 16 an-Nahl: 106, ”Kecuali orang yang dipaksa, sedang hatinya tetap teguh dalam keimanan…”

Barangkali juga karena Rasul tahu betapa teguhnya ‘Ammar dalam keistiqamahan. Selepas Rasul wafat, betapa banyak para munafik terbuka kedoknya, atau para sahabat yang mulai kendor semangatnya.. Namun tidak begitu dengan ‘Ammar.. Ucapan seorang lelaki berusia 93 tahun itu senantiasa membuat kaum muslimun bergemuruh ketika perang.. Pun ketika ia dipilih oleh Umar bin khattab ketika menjadi pimpinan negeri Kuffah, kezuhudan selalu mengiringinya. Ibnu Abil Hudzail mengatakan,

“Saya lihat ‘Ammar bin Yasir sewaktu menjadi ‘Amir di Kuffah, membeli Sayuran di pasar lain mengikatnya dengan tail dan memikulnya di atas punggung, dan membawanya pulang….”.

Dan salah seorang awam berkata kepadanya sewaktu ia menjadi Amir di Kufah itu, “Hai yang telinganya terpotong!”, menghinanya dengan telinganya yang putus ketika menghadapi orang-orang murtad di pertempuran Yamamah. Tetapi jawaban amir yang memegang tampuk kekuasaan itu tidak lebih dari: “Yang kamu cela itu adalah telingaku yang terbaik…”

Subhanallah.. dan, Barangkali selanjutnya karena ‘Ammar telah memiliki keimanan yang sebenarnya. Sebab, pengorbanan merupakan esensi atau sari dari keimanan, dan ia telah melampauinya dengan sangat.

Duh, beneran jadi iri plus kangen dengan sosok ’Amar bin Yasir.. Wallahu a’lam

(Ummu Salman)

cropped-th.jpegUst. H. Taufik Hamim Effendi, Lc., MA

Note: Bila artikel ini bermanfaat silahkan segera share agar anda juga mendapat aliran pahala yang takkan pernah henti insya Allah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

33 − = 32