Dua Ujian Penyeru Kebenaran

ابتلاءTaufikHamim – Dua Ujian Penyeru Kebenaran

عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ ، عَنْ أَبِيْهِ ، قَالَ : قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً ؟ قَالَ : “اَلأَنْبِيَاءُ ، ثُمَّ الصَّالِحُوْنَ ، ثُمَّ اْلأَمْثَلُ ، فَالأَمْثَلُ مِنَ النَّاسِ ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِيْنِهِ ، فَإِنْ كَانَ فِيْ دِيْنِهِ صَلاَبَةٌ زِيْدَ فِيْ بَلاَئِهِ ، وَإِنْ كَانَ فِي دِيْنِهِ رِقَّةٌ خُفِّفَ عَنْهُ ، وَمَا يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَمْشِيَ عَلَى ظَهْرِ اْلأَرْضِ لَيْسَ عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ”.

Mush’ab bin Sa’d meriwayatkan dari ayahnya, ayahnya berkata, aku bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat cobaannya?” Beliau menjawab, “Para nabi, kemudian orang-orang yang seperti para nabi, kemudian orang-orang yang seperti mereka. Seorang hamba diuji Allah berdasarkan (kualitas) agamanya. Jika agamanya kokoh, maka akan semakin berat cobaannya. Namun jika agamanya lemah, maka ia akan diuji berdasarkan kadar agamanya tersebut. Dan cobaan akan selalu menyertai diri seorang hamba hingga berjalan di muka bumi dengan tidak memiliki satu dosa pun” (HR. Ahmad).

Sukses dunia akhirat adalah harapan setiap Mukmin, termasuk seorang da’i. Seorang penyeru kepada kebenaran tentunya dia ingin sukses dalam mendakwakan Islam kepada orang lain. Namun sebelum kesuksesan itu tercapai, sudah menjadi konsekuensi keimanan dan perjuangan, dia pasti menghadapi beragam ujian dan cobaan dalam aktivitas dakwahnya.

Cobaan sudah menjadi sunnatullah yang berlaku dalam kehidupan ini. Allah SWT menciptakan kematian dan kehidupan supaya Dia menguji siapa di antara hamba-Nya yang lebih baik amalnya.

Allah SWT berfirman:

”Mahasuci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (Q.S. Al-Mulk/67 : 1-2)

Ujian Baik dan Buruk

Ujian yang akan dihadapi seorang da’i ada yang baik juga ada yang buruk. Meskipun mungkin dia akan merasakan ujian dan cobaan itu sangat berat, namun apabila dia sabar dalam menghadapinya, maka itu akan dapat mengantarkannya ke surga yang luasnya seluas langit dan bumi; surga yang membuat setiap orang yang memasukinya akan lupa segala derita dan kesulitan yang pernah dialaminya selama hidup di dunia yang fana ini.

Jalan surga itulah yang pernah dilalui Rasulullah SAW dan para sahabat dalam berdakwah dan berjihad dengan segala kesulitan dan penderitaan yang mereka hadapi.

Allah SAW berfirman:

”Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (Q.S. Al-Baqarah/2:155).

Makna ujian dan cobaan dalam ayat-ayat di atas merupakan seleksi dan ujian bagi amal perbuatan manusia di atas muka bumi ini, sehingga mereka dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Sunnatullah ini berlaku pada kaum Muslilmin, terutama kepada manusia-manusia pilihan, seperti para Nabi dan Rasul Shalawatullah wasalamuhu ’laihim ajma’in, orang-orang yang keimanan dan ketaqwaannya seperti mereka, dan begitu seterusnya.

Dengan demikian, ujian dan cobaan merupakan sunnatullah yang harus dihadapi manusia, terutama para penyeru kebenaran. Begitu mereka mengucapkan kebenaran, Allah SWT langsung menuntut bukti atas kebenaran ucapan itu.

Allah SWT berfirman :

” Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ”Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al-Ankabut/29 : 1-2).

Rasulullah SAW bersabda:

”Surga itu dikelilingi oleh berbagai hal yang tidak disukai… ” (H.R. Muslim).

Setelah mengetahui betapa panjang dan terjalnya jalan dakwah yang dilalui oleh seorang da’I, serta beratnya beragam ujian, fitnah, dan cobaan yang selalu dihadapi dan dialami, maka dia harus sadar bahwa semua itu juga pernah dialami oleh para pendahulunya, terlebih para Nabi dan Rasul.

Ketika Rasulullah SAW ditanya tentang siapa orang yang paling berat ujiannya, beliau menjawab: ”

……Para Nabi, kemudian orang-orang shalih kemudian orang-orang terbaik seperti mereka, seseorang akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya…”. (H.R. Ahmad)

Rasulullah SAW adalah da’i pertama dalam Islam yang mendapatkan beragam ujian dan cobaan. Beliau adalah Qudwah dan Uswah bagi para jurudakwah, terutama dalam menghadapi aneka ragam ujian dan cobaan.

Untuk menggapai kemenangan, seorang da’i harus istiqamah dalam mengahadapi dua ujian dan cobaan, yaitu cobaan baik dan buruk, cobaan kesenangan dan cobaan kesulitan, cobaan kekayaan dan cobaan kemiskinan. Wallahu a’lam.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

− 3 = 7