Dua Waktu Taubat

taubat 1TaufikHamim – Dua Waktu Taubat

عَنْ أَبِيْ مُوْسَى عَنِ النَّبِىِّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- قَالَ : “إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوْبَ مُسِيْءُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوْبَ مُسِيْءُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا

Abu Musa meriwayatkan, Nabi SAW bersada: “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa jalla membentangkan tangan-Nya pada waktu malam agar orang yang melakukan kesalahan pada siang hari bisa bertaubat dan Dia membentangkan tangan-Nya pada siang hari agar orang yang melakukan kesalahan pada malam hari bisa bertaubat hingga matahari terbit dari barat” (H.R. Muslim).

KANDUNGAN HADITS

Hadits ini menerangkan karunia Allah SWT kepada hamba-hambanya agar selalu bertaubat dan memperbaharui taubatnya. Allah SWT menerima taubat hamba-Nya siang dan malam. Dia menerima taubat hamba-Nya sebelum matahari terbit dari barat, yaitu sebelum kiamat datang. Dia menerima taubat hamba-Nya selagi nyawa belum sampai ke kerongkongan, sebelum ajal datang menjemputnya.

Allah SWT menciptakan jin dan manusia agar mereka menyembah-Nya. Dia menciptakan kematian dan kehidupan agar Dia menguji siapa di antara hamba-Nya yang paling baik amalnya. Jadi, siapa pun dia yang hidup di dunia ini pasti akan selalu menghadapi ujian dan cobaan. Apakah dia akan lulus menghadapi ujian dan cobaan tersebut, tergantung pada dirinya. Kalau dia mampu menghadapi ujian dan cobaan ini, berarti dia telah sukses dan akan dijauhkan dari siksaan Allah SWT di akhirat nanti. Kesuksesan hakiki adalah dapat dijauhi dan diselamatkan dari adzab api neraka dan kita dimasukkan ke dalam surga-Nya.

“…فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ….”.

“Barangsiapa yang dijauhkan dari api neraka dan dimasukkan ke surga, maka dia telah mendapatkan kesuksesan”. (Q.S. Ali Imran/3 : 185 )

Manusia Tak Luput dari Dosa

Rasulullah SAW bersabda:

“كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُوْنَ”.

“Setiap anak cucu Adam pasti melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah dia yang selalu mau bertaubat”.  (H.R. Tirmidzi)

Salah satu ciri manusia adalah selalu melakukan perbuatan dosa, baik dosa besar maupun dosan kecil. Namun, Allah SWT adalah Tuhan yang Maha Pengampun, Penyayang, dan Penerima taubat. Dia memberikan banyak sarana bagi hambanya untuk selalu melakukan taubat.

Sebesar dan sebanyak apa pun dosa seorang hamba, apakah dia seorang pembunuh, pemabuk, pencuri, perampok, pezina (pelacur), koruptor, rentenir, pemakan riba, pecinta sesama sejenis (homo/lesbi), dukun, dan sebagainya, apabila kembali kepada Allah SWT, bertaubat kepada-Nya dengan penuh harap akan rahmat dan ampunan-Nya, maka ampunan Allah SWT lebih luas dari dosa dan kesalahan manusia.

Jangan ada kata-kata putus asa, misalnya “Allah SWT tidak akan mengampuni saya, dosa saya sudah begitu banyak, keadaan saya saudah kronis, saya manusia bejad, rahmat Allah SWT sudah tertutup buat saya,” dan kalimat apa saja yang berkonotasi kepada kepesimisan dan keputusasaan.

Ingat, syaithan selalu menggoda anak cucu Adam sampai hari kiamat tiba, hingga dia dapat menjerumuskan mereka ke dalam lubang dosa dan kesalahan.

Ingat, di dunia ini, syaithan selalu mencari teman sebanyak-banyaknya untuk menemaninya di neraka kelak. Na’udzi billah. Dia akan selalu berbisik ke telinga manusia agar selalu mengikuti kemauannya. Dia merasuki tubuh manusia dengan cepat, secepat darah yang mengalir di dalam tubuh manusia.

Ingat, rahmat Allah SWT selalu terbuka buat hamba-Nya yang selalu bertaubat kepadanya. Allah SWT Maha Pengasih, Penyayang, Pengampun, Pemaaf, Penerima taubat hamba-Nya.

Jika kita selau bertaubat dan memohon ampun kepada-Nya, maka bumi yang tadinya terasa sempit karena lumuran dosa yang menimpa kita, akan kembali terasa begitu luas.

Mari renungi Firman Allah SWT :

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِيْنَ أَسْرَفُوْا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لاَ تَقْنَطُوْا مِنْ رَحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ (53) وَأَنِيبُوْا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوْا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لاَ تُنْصَرُوْنَ (54)

“Katakanlah (Wahai Muhammad): “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.  Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong” (Q.S. Al-Zumar/39 : 53-54).

Jika di dunia ini tidak ada yang melakukan dosa atau kesalahan, pasti Dia akan meciptakan makhluk yang akan berbuat dosa dan kesalahan, sehingga nantinya Allah SWT akan mengampuni, memaafkan, dan menghapuskan segala dosa dan kesalahannya.

Jangan lupa, perbanyak istighfar, memohon ampun kepada Allah SAW. Rasulullah SAW yang maksum,  tidak memiliki dosa, selalu memohon ampun kepada Allah SWT sehari semalam tidak kurang dari 70 kali. Masak kita yang selalu berbuat dosa tidak mau beristighfar kepada-Nya?

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَمَّ يَقُوْلُ : “يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوْبُوْا إِلَى رَبِّكُمْ فَإِنِّيْ أَتُوْبُ إِلَيْهِ فِيْ الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ”.

Ibnu Umar meriwayatkan bahwa dia mendengar Nabi SAW bersabda: “Wahai manusia, bertaubatlah kalian kepada Tuhan kalian karena sesunggunya aku selalu bertaubat kepada-Nya seratus kali dalam sehari” (H.R. Ahmad dan Ibnu Hibban).

قَالَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُوْلُ : “وَاللهِ إِنِّيْ َلأَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِيْنَ مَرَّةً”.

Abu Hurairah r.a. berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Demi Allah, sesungguhnya aka bertaubat dan memohon ampun kepada Allah dalam sehari semalam lebih dari 70 kali”. (H.R. Bukhari).

Taubatan Nashuha

Jangan melakukan “taubat sambal”; sekarang kapok, besok nyoba lagi. Lakukan taubat yang benar, yakni taubatan nashuha. Lakukan taubat sebelum ajal yang tidak pernah kita undang kedatangannya menjemput kita. Dengan taubatan nashuha, niscaya Allah SWT akan menghapuskan segala dosa yang pernah kita lakukan.

Dengan taubatan nashuha, Dia akan memasukkan kita ke dalam surganya. Surga yang ketika orang memasukinya maka dia akan lupa segala penderitaan yang pernah dialaminya.

Umar bin Khattab r.a. pernah ditanya mengenai taubatan nashuha, beliau menjawab: “Seseorang bertaubat dari perbuatan dosa kemudian tidak mengulanginya perbuatan tersebut”.

Al-Kalby: “Menyesalinya dalam hati, beristighfar dengan lisan, meninggalkan perbuatan dosa tersebut dan tidak akan mengulanginya”.

Qatadah: “Taubatan nashuha adadalah taubat yang benar”.

Hasan Bashri: “Membenci dosa yang pernah dilakukannya dengan senang hati dan beristighfar bilamana mengingatnya”.

Imam Nawawi dalam kitab Riyadhush Shalihin (Bab Al-Taubah) menyebutkan tiga syarat taubat. Bila salah satunya tidak dipenuhi, maka menurutnya taubat itu tidak sah. Ketiga syarat tersebut adalah meninggalkan perbuatan kemaksiatan, menyesal karena telah melakukan kemaksiatan tersebut, dan bertekad tidak mengulanginya untuk selama-lamanya.  Apabila kemaksiatan itu berkaitan dengan sesama manusia, maka dia harus mendapatkan maaf dari orang yang pernah dizhaliminya itu.

Bertaubat itu wajib untuk semua dosa dan kesalahan. Apabila seseorang telah bertaubat dari sebagian perbuatan dosa dan kesalahan, maka menurut para ulama, taubatnya tetap sah dan dia berkewajiban untuk tetap bertaubat untuk dosa dan kesalahannya yang lain.

Kita mohon kepada Allah SWT agar Dia menerima segala amal saleh kita, menjadikan taubat kita adalah taubat yang benar, taubatan nashuha, sehingga dosa dan kesalahan kita yang pernah kita lakukan akan diampuni dan akhirnya kita dimasukkan ke dalam surganya. Amin.   Wallahu a’lam bish-shawab.*

cropped-th.jpegUst. H. Taufik Hamim Effendi, Lc., MA

Note: Bila artikel ini bermanfaat silahkan segera share agar anda juga mendapat aliran pahala yang takkan pernah henti insya Allah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

− 2 = 3