Dua Zuhud yang Dicintai

 zuhudTaufikHamim – Dua Zuhud yang Dicintai

عَنْ أََبِي الْعَبَّاسِ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ، قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ : يَا رَسَوُلَ اللهِ، دُلَّنِيْ عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِي اللهُ وَأحَبَّنِي النَّاسُ ، فَقَالَ :  اِزْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبّك اللهُ ، وَازْهَدْ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبّك النَّاسُ

Dari Abul ‘Abbas Sahl bin Sa’d Al-Sa’idiyy r.a. berkata: “Telah datang seorang laki-laki kepada Nabi SAW lalu berkata: Wahai Rasululah, tunjukilah kepadaku suatu amalan yang apabila aku amalkan niscaya Allah akan mencintaiku dan manusia akan mencintaiku! Maka beliau bersabda: Berzuhudlah kamu di dunia niscaya Allah akan mencintaimu dan berzuhudlah kamu dalam hidup sesama manusia niscaya mereka akan mencintaimu” (H.R. Ibnu Majah, Tahabarani dan Baihaqi).

KANDUNGAN HADITS

Hadits di atas mengajak kita agar memiliki sifat zuhud, yakni zuhud terhadap kehidupan dunia dan zuhud dalam hidup bersama orang lain.

Kata zuhud berasal dari kata bahasa Arab, Zahada fi asy-syai, yazhadu fihi wa ‘anhu : ihtaqarahu wa ‘aradha ‘anhu wa tarakahu walam yarghab fihi. Menurut bahasa, zuhud adalah meremehkan sesuatu, menjauhi, meninggalkan, dan tidak menyukainya.

Dari definisi zuhud di atas, jangan sampai kita salah kaprah dalam memahaminya, sehingga berakibat kepada meninggalkan dan melupakan segala fasilitas dunia yang Allah SWT sediakan ini. Fahami makna zuhud secara baik dan benar, maka kita akan menikmati segala fasilitas yang ada di dunia ini secara baik.

Pemahaman zuhud yang benar yaitu dengan memahami, bahwa semua kenikmatan yang kita miliki di dunia ini akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT. Karenanya, hendaklah harta yang kita miliki tidak melekat kuat di hati, namun jadikan harta tersebut hanya ada di dalam genggaman tangan kita. Suatu saat, jika ada tuntutan agar harta tersebut segera dikeluarkan dalam rangka kebaikan, maka kita akan mudah melepaskannya. Rasulullah SAW bersabda : “Sebaik-baik harta adalah harta yang ada di dalam genggaman seorang hamba yang saleh” (H.R. Muslim, Ahmad dan Ibnu Majah).

Tengoklah bagaimana kehidupan para sahabat r.a. yang penuh kezuhudan. Walaupun tidak sedikit di antara mereka yang memiliki harta yang berlimpah, akan tetapi zuhud mereka adalah zuhud positif yang dapat memberikan pengaruh positif pula bagi kehidupan mereka.

Zuhud bukan sama sekali meninggalkan kehidupan dunia, berpenampilan seakan-akan mereka orang miskin lagi papa, serta memakai pakaian yang tidak enak dipandang, lusuh yang sangat terkesan kotor dan dekil. Praktik zuhud semacam itu dilatarbelakangi pemahaman yang salah tentang zuhud.

Zuhud para sahabat bukan karena dilatarbelakangi oleh kebencian mereka akan kehidupan dunia atau ingin meninggalkan sama sekali tugas dan kewajiban sebagai khalifah Allah di muka bumi ini. Namun, sifat zuhud yang melekat dalam diri mereka adalah tidak ada ambisi untuk mengejar-ngejar dan mendapatkan kenikmatan dunia sebanyak mungkin.

Apabila mendapatkan kebaikan dunia, mereka tidak lupa untuk selalu bersyukur dan memuji-Nya. Mereka gunakan semua pemberian Rabbnya sebagai wasilah atau sarana untuk mendapatkan kenikmatan akhirat yang barang tentu nilainya sangat tidak sebanding dengan kenikmatan dunia dan seisinya.

Dengan demikian, Allah SWT mencela orang yang sangat berambisi terhadap kenikmatan dunia dan lalai akan kehidupan akhirat dan kenikmatan yang abadi. Akan tetapi Allah sangat memuji hamba-Nya yang selalu memohon agar mendapatkan kebaikan dunia dan kebahagaiaan akhirat.

Allah SWT berfirman :

 “فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ”.

Maka di antara manusia ada orang yang bendo’a : “Ya Tuhan kami, berilah kami di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang bendo’a: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka” (Q.S. Al-Baqarah/2 : 200-201).

Kenikmatan yang diperoleh di dunia ini pasti akan dimintai pertanggung jawabannya oleh Allah SWT.

“ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيْمِ”.

“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan” (Q.S. Al-Takatsur/102 : 8)

Rasulullah SAW bersabda :

“لاَ تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيْمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ “

“Tidak akan melangkah kaki seorang hamba pada hari kiamat, sehingga dia akan ditanyai tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang ilmunya apa yang telah diamalkan, tentang hartanya dari mana dia memperolehnya dan k e mana dia nafkahkan, dan tetang tubuhnya untuk apa dia gunakan” (H.R. Ahmad dan Tirmidzi).

Marilah kita hidup dengan penuh kezuhudan; zuhud yang dapat memberikan pengaruh positif terhadapan kehidupan kita; zuhud dengan tidak berambisi terhadap kehidupan dunia dan tidak melupakan kehidupan akhirat, atau zuhud mengejar kehidupan dunia untuk mendukung kehidupan akhirat.

Orang zuhud akan berlaku qana’ah dan ridha (rela menerima apa adanya) terhadap rezeki yang halal yang Allah berikan sesudah dia berusaha dan bertawakkal kepada Allah, dia dapat menjaga diri dari yang suatu yang haram, serta berhati-hati dari perkara yang syubhat.

Cerminan zuhud yang benar terdapat pada kekayaan jiwa, menjaganya, serta berkorban di jalan Allah SWT dengan apa saja dimiliki. Orang zuhud senantiasa tidak memperkaya diri dan keluarga, lalu lupa kalau dulu selalu membutuhkan bantuan banyak orang, lupa kalau orang-orang di sekeliling kita saat ini sangat membutuhkan uluran tangan kita. Wallahul Musta’an.*

th kecilUst. H. Taufik Hamim Effendi, Lc., MA Note: Bila artikel ini anda anggap bermanfaat silahkan segera share agar anda juga mendapat aliran pahala yang takkan pernah henti insya Allah + jangan lupa doakan penulis untuk kebaikan dunia dan akhirat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

45 − 38 =