Istiqamah Dalam Setiap Kondisi

istiqamahTaufikHamim – Istiqamah Dalam Setiap Kondisi

“Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik” (QS.Yusuf; 60)

Ayat di atas menceritakan hasil akhir dari cerita perjalanan Nabi Yusuf as. Beliau mendapat pahala atas ketakwaan dan kesabaran. Beliau telah menjaga keistiqomahan dalam setiap kondisi, baik dalam kondisi sulit maupun senang, kondisi miskin maupun kondisi kaya, kondisi terhina dan kondisi terhormat. Beliau tetap bertakwa kepada Allah SWT.

Kisah nabi Yusuf as memang sangat unik, hingga para cerpenis dan penulis cerita kagum dengan kisah Yusuf as yang dipaparkan oleh al-Qur’an. Tiap episodenya asyik untuk disimak. Beberapa keunikan kisah antara lain dimulainya dengan cerita mimpi melihat sebelas bintang dan bulan, dan kisah diakhiri dengan tafsir mimpi itu saat sebelas saudaranya tunduk pada Yusuf as yang telah menjadi pejabat Mesir. Keunikan lainnya adalah tentang baju Yusuf as yang dijadikan alat penyembuh kebutaan ayahnya, tapi justru baju itu pula menjadi bukti akan perbuatan makar yang dilakukan saudara-saudara Nabi Yusuf terhadap beliau.

Keunikan kisah nabi Yusuf juga tercermin dari gelombang kondisi yang dialami nabi Yusuf as. Laksana roda yang berputar, nabi Yusuf as mengalami berbagai kondisi; kadang di atas kadang di bawah.

Itulah keunikan kisah yang diakui para penulis cerita sebagai cerita atau kisah terbaik. Sesuai dengan firman Allah SWT yang artinya: “Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui” (QS.Yusuf: 3)

Pelajaran penting yang bisa kita ambil dari kisah nabi Yusuf adalah bahwa kondisi sulit justru akan mengantarkan seseorang kepada kondisi senang. Sebaliknya, di balik kondisi senang justru mengantarkan kepada kondisi sulit.

Curahan kasih sayang dan cinta ayah Yusuf as kepada Yusuf melebihi cintanya kepada saudara-saudara lainnya adalah sebuah kondisi menyenangkan. Tapi justru di balik kesenangan itu, timbul kecemburuan dari saudara-saudara Yusuf as, sehingga saudara-saduara Yusuf as mengajak ke hutan dan melemparnya ke sebuah sumur.

Kondisi di dalam sumur sendirian selama tiga hari adalah kondisi sulit dan tidak menyenangkan. Tapi, justru kondisi itu mengantarkan Yusuf as kepada kondisi menyenangkan. Melalui orang yang mengambilnya, Yusuf dijual di mesir dan dibeli raja Mesir, sehingga beliau tinggal di istana yang lebih lengkap fasilitas hidupnya.

Hidup di dalam istana adalah kondisi menyenangkan. Namun justru kondisi itu pula yang mengantarkan Yusuf as dipenjarakan oleh raja akibat fitnah sang ratu terhadap Yusuf as.

Kemudian, kondisi di dalam penjara adalah kondisi sulit dan tidak menyenangkan, tapi justru keberadaannya di penjara mengantarkan beliau menjadi pejabat Negara. Melalui informasi teman sepenjaranya yang sudah bebas bahwa Yusuf as adalah orang baik dan dapat menafsirkan mimpi, raja membutuhkan nasehat tafsiran mimpinya sehingga musim paceklik selama tujuh tahun dapat diatasi atas masukan strategi ekonomi yang disampaikan nabi Yusuf as.

Apa yang dapat kita ambil pelajaran dari kisah nabi Yusuf as di atas? Kita kadang cepat berprasangka buruk kepada Allah SWT saat kita mendapat kondisi yang sulit, padahal bisa jadi kondisi itulah yang akan mengantarkan kita kepada kondisi yang lebih menyenangkan dari sebelumnya. Sebaliknya, kita kadang lupa diri saat mendapat karunia dan kondisi yang menyenangkan, padahal bisa jadi kondisi itulah yang akan mengantarkan kita kepada kondisi tersulit dari sebelumnya. Sebaimana yang diingat Allah dalam ayat yang artinya: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 216)

Karena itu dalam kondisi apapun, kita tidak boleh melupakan Allah SWT. Kita harus tetap istiqomah dalam kondisi apapun; baik kondisi sulit maupun kondisi senang.

Nabi Yusuf as telah memberi contoh kepada kita. Sekalipun beliau dalam puncak kesenangan tapi tetap tidak melupakan Allah SWT. Saat beliau diajak berbuat mesum oleh sang ratu nan cantik, beliau menolaknya karena takut Allah. Bahkan beliau memilih di penjara dari pada hidup dalam lingkungan yang akan mengantarkan pada kemaksiatan. Demikian juga saat beliau berada di puncak kepemimpinan di Mesir, beliau tidak menaruh dendam kepada saudara-saudaranya yang jatuh miskin karena paceklik dan meminta-minta makanan kepada Yusuf as yang saat itu menjabat jabatan tertinggi di kerajaan. Padahal mereka dahulunya pernah mencampakkan Yusuf as ke dalam sumur. Bahkan Yusuf as memboyong mereka dan keluarganya untuk tinggal bersama di istananya menikmati kenikmatan yang diberikan Allah SWT.

Dalam kondisi sulit pun beliau tetap sabar dan terus berbuat baik kepada orang. Saat menjadi budak raja, beliau patuh dan menurut sesuai dengan ketentuan hukum perbudakan yang siap diperintah Tuannya sekalipun beliau anak seorang Nabi.

Untuk itulah Allah SWT telah menjanjikan baginya pahala karena telah lulus dalam berbagai ujian, baik ujian sulit maupun ujian senang. Sebagaimana firman Allah SWT yang artinya: “Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik” (QS.Yusuf; 60). Wallahu a’lam.

H. Muhammad Jamhuri, Lc., MA (Direktur Sekolah Tinggi Agama Islam (STIA) Asy-Syukriyyah, Cipondoh – Tangerang, Banten))

Note: Bila artikel ini bermanfaat silahkan segera share agar anda juga mendapat aliran pahala yang takkan pernah henti insya Allah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

82 − 79 =