Jangan Salahgunakan Ayat Quran

quran okTaufik-hamim – Al-Quran sebagai petunjuk bagi umat manusia seharusnya bisa dijadikan rujukan utama dalam menjalani hidup di dunia ini agar manusia mendapatkan kebagiaan dan baik di dunia maupun di akhirat kelak. Karenanya untuk memahami Al-Quran secara baik dan benar ada syarat dan panduan yang telah dirumuskan oleh para ulama, dimana mereka adalah para pewaris ilmu yang akan terus menjaganya hingga akhir zaman.

Namun ternyata, seringkali kita mendapati penyalahgunaan ayat Al-Quran oleh orang yang jiwanya kering dari petunjuk Al-Quran itu sendiri. Ayat Al-Quran kerap digunakan untuk kepentingan di kancah perpolitikan di indonesia, bahkan kita dapati orang mudah sekali menjadikannya sebagai ‘dalil’ syar’i, dalam hal ini ayat Al-Quran untuk kepentingan pribadi dan hawa nafsunya.

Dahulu pada era perpolitikan orde baru sering kali ayat Al-Quran digunakan untuk mencari simpati masyarakat, padahal antara ayat Al-Quran dengan pribadi dan kelompok tertentu sangat jauh dengan nilai-nilai Al-Quran.

Belakangan, bahkan juga sudah sering terjadi, orang yang tidak memiliki pemahaman yang baik, bahkan dilatarbelakangi oleh keinginannya mencari ‘suasana’ baru dia menggunakan ayat Al-Quran untuk dijadikan sandaran dan mencari pembenaran atas perbuatan dan ‘penemuan’ suatu ‘ilmu’. Karena ketidakmengertian masyarakat awam, mereka dengan mudah menjadi pengikut, mempercayai dan mengikuti kekeliruan yang dilakukan orang ‘orang pintar’ dan soko guru spiritualnya.

Mereka dengan mudah bahkan merasa tidak bersalah bila menafsirkan Al-Quran sesuai dengan seleranya karena ‘wahyu’ telah turun kepadanya.

Ulama dan Tafsir Al-Quran

Dahulu, ulama salaf dari kalangan para sahabat khususnya, mereka sangat berhati-hati dalam menafsirkan suatu ayat Al-Quran. Diantaranya adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, beliau tidak ingin mengatakan tentang Al-Quran dengan sesuatu yang beliau tidak memahaminya, dalam ungkapannya beliau mengatakan:

أَيُّ أَرْضٍ تُقِلُّنِي ، وَأَيُّ سَمَاءٍ تُظِلُّنِي ، إِذَا قُلْتُ فِي الْقُرْآنِ مَا لا أَعْلَمُ

“Bumi mana tempat aku berpijak, langit mana yang akan manaungiku, apabila kau berani mengatakan pada Al-Quran sesuatu yang aku tidak mengetahuinya”.

Ibnu Abbas yang dikenal sebagai seorang ulama besar di kalangan sahabat memberikan kategori jenis tafsir:

” التَّفْسِيرُ عَلَى أَرْبَعَةِ أَوْجُهٍ ؛ وَجْهٌ تَعْرِفُهُ الْعَرَبُ مِنْ كَلامِهَا ، وَتَفْسِيرٌ لا يُعْذَرُ أَحَدٌ بِجَهَالَتِهِ ، وَتَفْسِيرٌ يَعْلَمُهُ الْعُلَمَاءُ ، وَتَفْسِيرٌ لا يَعْلَمُهُ إِلا اللهُ”.

“Tafsir itu ada empat macam, (1): Tafsir yang hanya diketahui oleh orang arab karena bahasanya. (2): tafsir yang tidak dimaafkan seorang pun bila tidak mengetahuinya. (3): tafsir yang hanya bisa diketahui oleh para ulama. (4): tafsir hanya bisa diketahui oleh Allah”.

Namun siapakah orang yang disebut dengan ulama?, Allah menggambarkan bahwa orang yang takut kepada-Nya itulah orang yang dinamakan ulama

“إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ”.

“Sesungguhnya orang yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanya ulama (QS. Fathir: 28)

Bisa jadi seseorang menjadi ayat Al-Quran sebagai sandaran dalam bertindak, namun karena pemahaman dan akidahnya tidak baik maka ayat Al-Quran tersebut tidak tepat bahkan bertolakbelakang dengan penafirsan yang benar.

Dalam materi ulumul Quran, ada ada pembahasan tentang jenis tafsir, yaitu menafsirkan Al-Quran dengan merujuk kepada Adillah Syar’iyah (dalil-dalil syar’i) diantaranya dalil Al-Quran, Hadits atau ucapan sahabat, ini biasa dikenal dengan Tafsirul Quran bil ma’tsur.

Sedangkan menafsirkan Al-Quran dengan sama sekali tidak merujuk kepada Adillah dalil-dalil syar’i tersebut maka ini disebut dengan tafsirul Quran birra’yil madzmum (dengan pendapat yang tercela)

Bila seseorang menyalahkgunakan Al-Quran demi mengikuti hawa nafsunya maka tidak mustahil dia akan terjebak dalam menafsirkan Al-Quran dengan akal dan fikirannya semata tanpa dilandai dan dukung oleh dalil-dalil syar’i, penyimpangan, kesesatan dirinya bahkan dapat menyesatkan orang lain. Na’udzu billah

th kecilUst. H. Taufik Hamim Effendi, Lc., MA

Note: Bila artikel ini bermanfaat silahkan segera share agar anda juga mendapat aliran pahala yang takkan pernah henti insya Allah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

− 1 = 1