Kisah Nyata : Ketika Hidayah Menyapa

petunjukTaufikHamim – Kisah Nyata : Ketika Hidayah Menyapa

Sebut saja, Ukhti. Ketika awal kenal, dia belum berkerudung. Bahkan, maaf, pakaiannya membuat bagian tubuhnya menonjol di sana-sini. Parahnya, dia juga terlihat sangat akrab dengan lawan jenis. Bahkan, dia terbaca ‘radar’ sering mojok dengan lelaki yang bukan mahrom. Terakhir, ketika itu, kami mencium indikasi bahwa dia pacaran dengan lelaki dari agama ‘tetangga’.

Lantas, apa yang harus kami lakukan? Padahal dia adalah seangkatan dengan kami? Apakah kami serta merta menghardiknya dengan kata kasar dan penghakiman? Bukankah, bisa jadi, dia dekat dengan lelaki dari agama ‘tetangga’ lantaran tak ada sesama muslimah yang dekat dan bisa mendegarkan curhatnya?

Wanita kedua, sebut saja Sister. Pandangan pertama, semua mata tertuju padanya. Kerudungnya rapi, roknya menjuntai panjang, tinggi lebih dari 160 cm, wajah putih, pinter, ramah, dan berasal dari keturunan terhormat, serta saudagar kaya. Persis, Sister ini tak memiliki ‘cacat’ sedikitpun.

Kemudian, waktu berjalan. Kami, sebagai komunitas, tetap berhubungan dengan keduanya, dengan cara yang baik dan tidak melanggar hukum yang berlaku. Apalagi, kami terlibat dalam organisasi dan dakwah sekolah, sehingga mengenal banyak orang dan sering berhubungan dengan mereka.

Hingga akhirnya, kami terheran-heran melihat kejadian aneh. Tepatnya, selepas kami tak berhubungan dalam waktu yang lama. Meskipun, sebenarnya, kami tak terlalu kaget dengan kejadian ini, lantaran sudah ‘memprediksikan’ dan memahami dengan baik konsekuensi logis dari sebuah perjalanan kehidupan.

Bahwa, ketika kita menilai orang lain, dengan pandangan benci, bisa jadi dalam waktu yang akan datang, kita pun bisa melakukan hal yang serupa. Karena, selama kita masih hidup, maka setan akan terus menggoda hingga kita mengikuti keburukan yang mereka usung, agungkan dan promosikan.

Kembali kepada dua kawan kita di cerita awal.

Sang Ukhti, berhasil menemukan secercah hidayah. Dia menikah dengan orang yang tepat. Sampai akhirnya, memutuskan untuk berhijab rapi. Dan, memakai cadar. Ketika kami meminta ijin untuk berkunjung, dia dengan santun mengatakan, “Maaf, teman. Saya ijin sama suami dulu ya? Dia ngijinin teman-teman untuk datang atau tidak.” Kemudian, ketika suaminya mendadak pergi lantaran tugas, sahabat ini berkata, tak kurang lembutnya, “Maaf, tidak bisa menerima tamu. Suami sedang tidak di rumah.”

Ya, begitulah. Hidayah itu, bisa serta merta datang. Tanpa kita sadari.

Lalu, bagaimana dengan Sister? Ya, entah bagaimana ceritanya, kerudung, rok dan pakaian muslimahnya tertanggalkan. Bahkan, kami menemukan, foto-foto publiknya dengan celana pendek di atas lutut di berbagai tempat. Mulai dari rumah, di laut, dan seterusnya.

Dua kisah ini, nyata adanya. Perjalanan hidup kadang tak bisa kita tebak. Tentu, kita berharap yang terbaik. Dengan terus berdoa dan memperbaiki diri.

Hidayah, akan Allah berikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Hidayah juga bisa dicabut dari siapa yang Dia kehendaki. Karena hidayah di luar kuasa kita, maka yang paling mungkin untuk kita lakukan adalah terus menerus memperbaiki diri.

Bisa jadi, apa yang sekarang kita benci, bersebab banyak cerita, ia akan menjadi sesuatu yang kita cintai. Karena kita tak pernah tahu akan apa yang terjadi esok hari, semoga dengan menjaga lidah membuat kita lebih selamat, dunia dan akhirat. Apalagi, ikut menghakimi seseorang. Padahal, kita bukan siapa-siapa. Kita belum tentu selamat sampai akhir hayat, keluarga kita juga belum sepenuhnya baik, dan seterusnya.

Lagi-lagi, mencerca kegelapan, tak akan pernah menjadi solusi.

Pirman ok(Pirman-Infoislami)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 + 6 =