Lebih Dekat Mengenal Sunnah (1)

kaligrafi-nabi-320x200ISLAM adalah agama mulia yang ajarannya sangat sempurna dan mencakup segala aspek kehidupan umat manusia. Oleh sebab itu, seorang Muslim tidak patut melaksanakannya sepotong-sepotong atau memilah-milah. Salah satu bentuk pemilahan ini adalah dengan meninggalkan Sunnah Rasulullah SAW yang merupakan sumber hukum utama kedua setelah Al-Qur’an Al-Karim.

Allah SWT memerintahkan kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW untuk memasuki Islam secara totalitas dan menyeluruh.

 

يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا ادْخُلُوْا فِي السِّلْمِ كَآفَّةً وَّلاَ تَتَّبَعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ”

”Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam keseluruhannya dan janganlah kalian turuti langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagi kalian “ (Q.S. Al-Baqarah/2:208).

Dalam beribadah, seorang Muslim harus mengikuti cara yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, para sahabat, dan para ulama salafush-shalih sesudah mereka. Amal ibadah seorang muslim akan dapat diterima disisi Allah SWT apabila telah memenuhi dua syarat utama, yaitu melaksanakannya secara ikhlash karena Allah SWT dan sesuai dengan Sunnah Rasulullah SAW.

Banyak ayat Al-Qur’an dan Hadits yang memerintahkan kita untuk beribadah dengan ikhlash karena Allah SWT semata dan mengikuti cara yang diajarkan oleh Rasul-Nya, di antaranya:

 

“وَمَآ أُمِرُوْآ إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَآءَ”

”Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan mengikhlashkan ibadah kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus (jauh dari syirik/mempersekutukan Allah )…” (Q.S. Al-Bayyinah/98 : 5)

Hadits Nabi Muhammad SAW :

 

“عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَ سُنَّتِي الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَ إِيَّاكُمْ وَ مُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ”

”Karena itu berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi geraham. Dan hindarilah hal-hal baru (dalam soal agama) karena semua yang baru itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat” (H.R. Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah).

 

DEFINISI SUNNAH

Kata Sunnah menurut bahasa mengandung arti jalan atau tuntunan, baik terpuji maupun tercela. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW :

“مَنْ سَنَّ فِي اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فََلَهُ أَجْرُهَا وَ أَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَ مَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعَلَيْهِ وِزْرُهَا وَ وِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ”

“Siapa saja yang mencontohkan tuntunan yang baik, maka dia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya sampai hari kiamat, dan siapasaja yang mencontohkan tuntunan yang buruk, maka dia akan menanggung dosanya dan dosa orang yang mengamalkannya sampai hari kiamat “ (H.R. Muslim).

 

“لَتَتَّبِعُنَّ سُنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشْبٍر وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، حَتَّى لَوْ دَخَلُوْا جُحْرَ ضَبٍّ لَدَخَلْتُمُوْهُ. قَالُوْا : الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى ؟ قَالَ : فَمَنْ ؟”

 

“Niscaya kalian akan mengikuti jalan-jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga apabila mereka memasuki lobang biawak pun niscaya kalian juga akan masukinya. Para shahabat bertanya: Mereka itu orang Yahudi dan Nashrani? Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: siapa lagi (kalau bukan mereka)“ (H.R. Bukhari dan Muslim).

 

Sunnah menurut istilah ada beberapa defenisi:

1.  Sunnah adalah lawan kata bid’ah, misalnya: “Fulan ‘ala sunnah,“ maksudnya adalah Fulan melaksanakan ibadah sesuai ajaran Rasulullah SAW; ”Fulan ’ala bid’ah,” maksudnya adalah Fulan melaksanakan ibadah menyimpang dari ajaran Rasulullah SAW.

2. Sunnah juga berarti segala yang dilakukan oleh para sahabat, sebagaimana yang terdapat dalam Hadits :

 

….”عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ”….

” Karena itu berpegang tegulah kamu kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapatkan petunjuk…”.

 

3. Lafazh sunnah dalam bahasa Sahabat dan para ulama salaf adalah Sunnah Nabi Muhammad SAW. Maksudnya adalah tata cara yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dalam melaksanakan segala yang telah diperintahkan oleh Allah SWT kepadanya.

Dengan ungkapan lain, sunnah adalah manhaj Nabi Muhammad SAW, baik berupa teori maupun praktik, dalam semua aktifitas kehidupan. Inilah yang pernah diingatkan oleh Rasulullah SAW kepada sebagian sahabatnya yang ingin meninggalkan sunnah dan sebagian lain berlebihan dalam melaksanakannnya.

Rasulullah Saw. bersabda :

“إِنَّمَا أَنَا أَخْشَاكُمْ ِللهِ وَ أَتْقَاكُمْ لَهُ، وَلَكِنِّيْ أَقُوْمُ وَ أَصُوْمُ وَ أُفْطِرُ وَ أَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِيْ فَلَيْسَ مِنِّيْ “

” Sesungguhnya aku adalah orang yang paling bertakwa dan takut kepada Allah Swt. Aku melaksanakan shalat malam, tetapi aku juga tidur; aku berpuasa etapi aku juga berbuka; dan aku juga menikahi wanita, maka barangsiapa yang meninggalkan sunnahku maka dia tidak termasuk umatku” (H.R. Muslim).

 

KATA “sunnah” oleh para ulama khalaf didefenisikan sesuai dengan disiplin ilmu yang mereka geluti.

Menurut Ulama Ahli hadits (Muhadditsin): “Segala yang bersumber dari Nabi SAW berupa ucapan, perbuatan, ketetapan (taqrir), sifat dan perjalanan hidupnya, baik sebelum ataupun sesudah kenabian”. Menurut sebagaian mereka, definisi ini sinonim hadits.

Menurut Ulama Ushul fiqh: “Segala yang bersumber dari Nabi SAW berupa ucapan, perbuatan, ketetapan (taqrir).

Menurut Ulama Ahli fiqh (fuqaha): “ Segala yang diperintahkan agama dengan tidak ada keharusan melaksanaknnya, mendapatkan pahala apabila dikerjakan, tidak berdosa apabila ditinggalkan”.

Terjadinya perbedaan definisi di atas karena terdapat perbedaan tujuan masing-masing ulama di berbagai disiplin ilmu tersebut.

Ulama hadits membahas tentang Rasulullah SAW sebagai seorang imam yang memberi petunjuk yang telah di sebutkan di dalam Al-Qur’an sebagai Uswatun Hasanah (teladan yang baik). Oleh karenanya, mereka menjelaskan segala yang berhubungan dengan Rasulullah SAW berupa ucapan, perbuatan, ketetapan, sifat, dan perjalanan hidupnya.

Ulama Ushul Fiqih hanya membahas tentang Rasulullah SAW sebagai peletak dasar syari’at Islam yang dijadikan pijakan baga para mujtahid di zaman sesudah beliau wafat.

Para fuqaha memusatkan pembahasan tentang pribadi dan perilaku Rasulullah SAW pada perbuatan-perbuatan yang melandasi hukum syara’, untuk diterapkan pada perbuatan manusia secara umum –wajib, haram, mubah, dan seterusnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

47 − 37 =