Mengajak Bukan Menghakimi

daiTaufikHamim – Mengajak manusia untuk melakukan kebaikan atau menyeru orang lain untuk melaksanakan perintah Allah SWT adalah suatu pekerjaan yang amat mulia, bahkan di dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu SWT meyebutkan bahwa orang yang melakukan aktifitas tersebut adalah orang yang perkataannya paling baik (Ahsanu Qaulan)
Allah SWT berfirman :

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang menyerah diri “.  (Q.S. Fushshilat/41 : 33).

Isi dan materi dakwah yang disampaikan seorang da’i adalah ajaran Agama Islam itu sendiri, agama yang penuh rahmat, yang bukan saja dapat dirasakan oleh para pemeluknya, akan tetapi juga bisa dirasakan oleh penganut agama lain, dan juga bahkan bagi seluruh alam semesta beserta isinya.

Namun seringkali kita dapati di masyarakat kita tidak sedikit para da’i yang menyerukan Islam kepada manusia, baik secara pribadi maupun kolektif, mereka berdakwah dengan cara yang membuat objek dakwanya itu bukannya menerima dakwah, tetapi malah sebalik menolaknya bahkan menentang dan memusuhinya.

Yang demikian itu disebabkan lantaran ajaran sang da’i tersebut menyimpang dari ajaran Islam itu sendiri, namun bisa jadi karena da’i tersebut tidak faham medan dakwanya, tidak memahami watak, kultur dan latar belakang masyarakat yang sedang didakwahi atau karena sebab-seba yang lainnya.

Kita dapati sebagian para da’i saat ini lebih suka untuk menvonis dan menghakimi masyarakat  dengan menyebut mereka  kafir, musyrik, fasiq, ahli bid’ah dan kalimat yang sejenisnya – yang barangkali sebagaian perbuatan yang dilakukan oleh masyarakatnya itu – masih dalam hal-hal yang masih dalam bingkai khilafiyah (perbedaan pandangan di kalangan para ulama yang masih diperbolehkan dalam masalah ibadah) – padahal seorang da’i seharusnya harus lebih dekat kepada masyarakatnya itu, dengan demikian dia akan dapat memperlakukan objek dakwahnya itu secara baik, santun, lemah lembut, penuh kasih sayang, arif dan bijaksana. Walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa sikap keras dan tegas juga dibutuhkan, namun harus sesuai dengan kondisi dan situasi.

Bukankah Allah SWT telah menggambarkan bagaimana Rasulullah SAW mendakwahi kaumnya.

Allah SWT berfirman :

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu Telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya “  ( Q.S. Ali Imran/3 : 159)

Tertib pusat perhatian dakwah

Islam adalah agama yang mengajarkan kepada tawazun / keseimbangan, di sana ada surga tapi juga ada neraka, ada anjuran tetapi juga ada ancaman, ada apahala tetapi juga ada dosa, ada ganjaran tetapi juga ada hukuman, ada perintah tetapi juga ada larangan, Islam tidak melarang suatu larangan melainkan ia juga akan memberikan solusinya.

Allah SWT telah memerintahkan melakukan pembentukan atau pembinaan umat sehingga terbentuk seorang da’i yang mempunyai ciri aktiftitas amar makruf dan nahi mungkar. Pembentukan ini dalam beberapa ayat dan hadits tidak dilakukan oleh semua orang, tetapi dilakukan oleh sekelompok kecil dari umat yang sadar untuk berdakwah. Kelompok kecil inilah yang membentuk manusia berkualitas menjadi terbaik (Khairu ummah).

Sejak zaman Nabi Muhammad SAW hingga saat ini, terbukti bahwa tidak semuanya manusia mau menerima dakwah Islam. Ada yang hanya menjadi pengikut pasif dan ada pula yang menjadi penentang aktif. Namun ada pula diantara mereka yang terlibat penuh sebagai kader yang aktif. Keadaan ini menggambarkan bahwa hidayah Allah SWT berperan penting terhadap dorongan (motivasi) seseorang kepada Islam, berdakwah dan juga dalam membentuk umat.

Allah SWT telah memerintahkan hendaknya ada sekelompok umat yang melakukan seruan kepada kabaikan , memerintahkan kepada yang makruf dan melarang kemungkaran.

Allah SWT berfirman :

” Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar,  merekalah orang-orang yang beruntung “. (Q.S. Ali Imran/3 : 104)

Kita  sama-sama mengetahui bahwa dakwah itu adalah menganjak manusia ke jalan Allah SWT agar selamat dan bahagia  dunia akherat. Maka agar tugas yang mulia ini dapat berjalan dengan baik, diantara yang harus dilakukan oleh seorang da’i ketika berdakwah di tengah-tengah masyarakat adalah dia harus pandai dalam mendahulukan hal-hal yang lebih penting dari pada yang tidak penting. Setelah dia mengajarkan manusia bagiamana mengesakan Allah SWT, maka dia juga dutuntut untuk menyeru manusia kepada kebaikan serta melakukan perbuatan yang makruf dan meninggalkan perbuatan yang mungkar.

Namun demikian harus ada suatu perkumpulan, wadah atau organisasi atau apapun bentuk dan namanya dalam rangka menyeru seruan kepada kebaikan, memerintah kepada yang makruf dan melarang kemungkaran. Harus ada kekuatan dan kekuasaan dalam melakukan itu semua.

Hak dan kebebasan manusia menurut Al-Qur’an

Manusia diciptakan secara sempurna dengan diberikan akal dan fikiran untuk digunakan sesuai dengan fungsinya yang benar. Ketika Islam didakwakan kepada umat manusia, maka tidak ada paksaan bagi orang yang ingin memeluknya.

Allah SWT berfirman :

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya Telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah berpegang kepada buhul tali yang amat Kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui “. ( QS. Al-Baqarah/2 : 256)

Nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah SWT sebagai pemberi kabar gembira dan juga pemberi peringatan, sebagai da’i ke jalan-Nya dan juga sebagai penerangan bagi kehidupan umat manusia dengan cahaya Islam yang dibawanya. Bahkan Rasulullah SAW ketika mendakwakan Islam kepada umatnya terdahulu telah mendapatkan bimbingan langsung dari Allah SWT bahwa tugasnya adalah menyampaikan risalah, memberikan peringatan kepada manusia, bukan memaksa orang untuk memeluk Islam.

Allah SWT berfirman :

“Maka berilah peringatan, Karena Sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan.  Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka”. (Q.S. Al-Ghasyiah/88 : 21-22)

Tugas Nabi Muhammad SAW lainnya adalah menyampaikian kebenaran yang telah datang dari Allah SWT dengan memberikan pilihan kepada umat manusia untuk mengambil jalan kebenaran atau kebathilan, namun bukan berarti tidak ada konsekuensi buruk bagi orang yang tidak menerima dan mengikuti risalahnya.

Allah SWTb berfirman :

“Dan Katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir”. Sesungguhnya kami Telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek “. (Q.S. Al-Kahfi/18 : 29)

Ibnu Katsir dalam kitabnya Tafsir Al-Qur’anil ‘Azhim mengatakan :  Allah SWT berfirman kepada Rasul-Nya Muhammad SAW : ” Katakanlah hai Muhammad kepada manusia ini apa-apa yang telah aku bawa dari Tuhanku berupa kebenaran yang tidak ada keraguannya. Maka barang siapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir, ini adalah merupakan bentuk ancaman yang amat sangat keras, oleh karenanya Allah berfirman (setelah ayat itu) :

“Sesungguhnya kami Telah sediakan bagi orang orang zalim (Orang yang kafir kepada Allah, Rasul dan kitab-Nya ) itu neraka”.

Al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya Al-Jaami’ Li Ahkaamil Qur’an mengatakan :

“Makna ayat diatas adalah : Katakanlah hai Muhammad kepada orang-orang yang yang telah Kami lalaikan hati-hati mereka dari mengingat Kami : ” Wahai manusia, Siapakah gerangan Tuhanmu yang haq ?, kepada-Nya jualah kembali taufik dan kehinaan, ditangan-Nya lah pentunjuk dan kesesatan, Dia memberikan petunjuk kepada siapa yang dikehendaki lalu dia beriman, dan Dia menjadikan seseorang itu sesat dengan kehendak-Nya lalu dia kafir “, …Allah SWT memberikan yang haq kepada orang yang dikehendaki walaupun dia orang lemah, dan tidak memberikan yang haq itu kepada orang dikehendaki walaupun dia orang kuat dan kaya……Apabila kalian ingin (beriman) maka berimanlah kalian, dan apabila kalian ingin (kafir) maka jadilah kalian kafir. Yang demikian ini bukanlah sebuah keringanan ataupun pilihan antara beriman dan  kafir…,apabila kalian kafir maka telah disiapkan untuk kalian neraka dan apabila kalian beriman maka bagi kalian adalah surga.

Akan tetapi perlu diketahui bahwa seorang da’i harus selalu menyampaikan risalah Islam yang penuh rahmat ini kepada masyarakat dengan cara yang rahmat pula sehingga mereka dapat menerima Islam dengan tidak ada keterpaksa dalam mengamalkan ajaran agama yang mulia ini.

Hak dan tanggung jawab da’i

Pekerjaan dakwah adalah pekerjaan yang amat mulia di sisi Allah SWT, berdakwah adalah sebuah kewajiban yang harus dipikul oleh seorang da’i, walaupun ada perbedaan pendapat diantara para ulama apakah berdakwah itu hukumnya fardhu ‘ain atau fardhu kifayah.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman :

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung”. ( Q.S. Ali Imran/3 : 104)

Rasulullah SAW bersabda :

 مَنْ رَأى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيّرْهُ بِيَدِهِ، فَإنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإنْ لَمْ يَستطعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذٰلِكَ أَضْعَفُ الإيمَانِ”   أخرجه الإمام أحمد ومسلم والأربعة عن أبي سعيد رضي الله عنه.

“Barang siapa diantara kalian melihat kemungkaran maka rubahlah dia dengan tangannya, apabila dia tidak mampu maka dengan lidahnya dan apabila dai tidak mampu maka dengan hatinya, yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman “.

Ganjaran atau pahala yang akan diperoleh oleh seorang da’i apabila dia melaksanakannya dengan benar amatlah besar.

Rasulullah SWT :

” مَنْ سَنَّ فِي اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فََلَهُ أَجْرُهَا وَ أَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَ مَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعَلَيْهِ وِزْرُهَا وَ وِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ” رواه مسلم

“Siapa saja yang mencontohkan tuntunan yang baik, maka dia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya  sampai hari kiamat, dan siapa saja yang mencontohkan tuntunan yang buruk, maka dia akan menanggung dosanya dan dosa orang yang mengamalkannya sampai hari kiamat “.

 ” فَوَاللّهِ لأَنْ يَهْدِيَ اللّهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِداً خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ “. رواه البحاري ومسلم وأحمد

“Demi Allah, yang dengan perantara kamu, Allah berikan petunjuk kepada seseorang, itu lebih baik dari pada kamu memiliki onta yang terbaik ”

Sikap da’i terhadap kepada reaksi/respon masyarakat.

Jalan dakwah adalah jalan yang penuh tantangan dan rintangan, sejarah telah mencatat bahwa dakwah selalu ditentang, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang mapan yang memang tidak suka terhadap kebenaran yang dibawa oleh para da’i.

Tentunya dalam menjalankan misi dakwah yang mulia ini seorang da’i harus tetap tegar dan istiqamah. Penolakan-penolakan yang dilakukan oleh masyarakatnya jangan membuat seorang da’i futur (patah semangat) bahkan sampai meninggalkan dakwah. Dia harus terus membuat strategi dan perencanaan yang matang – yang barang tentu tidak bisa dilalakukan secara individu – agar dakwahnya diterima di masyarakat. Namun apabila dia diam terhadap kerusakan dan kebathilan yang nampak didepan matanya  dan tidak mengingatkan mereka serta meninggalkan dakwahnya itu, dikhawatirkan akan terjadi bencana dan adzab yang tidak saja menimpa orang-orang yang melakukan kezhaliman.

Allah Subhanahu wata’ala. berfirman :

“Dan peliharalah dirimu dari pada fitnah (siksaan) yang tidak saja khusus menimpa orang-orang yang zalim di antara kamu, dan Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya “. ( Q.S. Al-Anfaal/8 : 25)

Rasulullah SWT bersabda :

” مَنْ رَأى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيّرْهُ بِيَدِهِ، فَإنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإنْ لَمْ يَستطعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذٰلِكَ أَضْعَفُ الإيمَانِ”   أخرجه الإمام أحمد ومسلم والأربعة من حديث طارق بن شهاب عن أبي سعيد رضي الله عنه.

“Barang siapa diantara kalian melihat kemungkaran maka rubahlah dia dengan tangannya, apabila dia tidak mampu maka dengan lidahnya dan apabila dai tidak mampu maka dengan hatinya, yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman “.

Ibnu ‘Abbas RA mengatakan : “Allah SWT memerintahkan kaum muslimin agar tidak mengakui kemungkaran yang nampak di hadapan mereka, sehingga membuat mereka akan tertimpa adzab “.

Demikian semoga para dai selalu istiqamah dalam mengemban tugas dakwah ini, tugas mulia yang pernah dilakukan oleh para hamba Allah SWT pilihan.

Wallahul Musta’an

Referensi :

-Al-Qur’an Al-Karim
-Al-Hadits Asy-Syarif
-Tafsir Ibnu Katsir
-Tafsir Al-Qurthubi
-Tafsir fathul Qadir
-Fizhilali Qur’an
-Al-Madkhal Ila ‘Ilmiddakwah
-Titik Tolak, Landasan Gerakan Aktifis Dakwah
-Kepribadian Da’i

cropped-th.jpegUst. H. Taufik Hamim Effendi, Lc., MA

Note: Bila artikel ini bermanfaat silahkan segera share agar anda juga mendapat aliran pahala yang takkan pernah henti insya Allah

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

+ 76 = 79