Mengenal Manhaj Salaf

salafTaufik Hamim – Mengenal Manhaj Salaf

Istilah salaf yang bermakna sebuah manhaj tidak pernah dikenal baik di zaman Rasulullah SAW dan sahabat. Karenanya ada baiknya sebelum menjelaskan apa dan bagaimana manhaj salaf itu, maka akan kita mulai dengan mengetahui asal kata Manhaj Salaf itu.

 

Pertama: dalam bahasa Arab kata manhaj berasal dari akar kata nahaj yanhaju nahjan wa manhajan yang artinya mengambil atau meniti jalan.

Kedua: sedangkan kata salaf berasal dari kata salafa yaslufu salafan yang memiliki arti yang telah berlalu dan terdahulu.

 

Menurut pendapat jumhur ulama bahwa yang dimaksud dengan ulama salaf adalah para sahabat, tabi’in, dan tabi’ tabi’in (pengikut tabi’in). karena mereka mendapatkan pujian dari Rasulullah SAW dan beliau bersaksi atas mereka dengan kebaikan.

 

Peran para sahabat Rasulullah SAW dan para muridnya dari kalangan tabi’in, sebagai orang terdepan setelah Rasulullah SAW dalam menyampaikan petunjuk Islam terlihat jelas. Terhimpun dalam diri mereka keimanan dan penyampaian yang baik, terhimpun pada diri mereka amal shalih yang sejalan ucapan dan perbuatan mereka. Mereka senantiasa mengikuti langkah dan jejak Rasulullah SAW dengan baik dan benar.

Para As-Salafush Shalih rahimahumullah adalah orang yang paling mengetahui Al-Quran dan sunnah Rasul-Nya, karenanya kita wajib mengikuti langkah dan jejak mereka.

 

Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Ulama salaf memiliki ilmu yang sempurna, lurus, jelas dan lebih bersih, karenanya mereka semua menjadi terdepan dalam menyampaikan petunjuk jalan yang benar, penerang jalan dalam langkah mereka. Orang yang duduk bersama mereka tidak merasa celaka, orang yang mengikutinya tidak merasa takut kepadanya, orang yang mengikutinya tidak akan sesat dan orang yang menyalahi mereka tidak mendapatkan petunjuk”.

 

Berikut beberapa karekteristik Manhaj Salaf:

  • Berpegang teguh kepada Al-Quran dan sunnah Rasulullah SAW, teguh dan tidak pernah goyah dalam kebenaran.
  • Tidak ada perselisihan dalam aqidah, satu aqidah yaitu aqidah Islam yang benar dan mereka tidak berselisih walau pun zaman dan tempat mereka hidup berbeda.
  • Mereka meyakini bahwa jalan para As-Salafush Shalih adalah yang paling lurus dan sempurna.
  • Mereka adalah orang yang paling mengetahui perihal Rasulullah SAW baik dalam perbuatan dan ucapannya, karenya mereka sangat mencintai Rasulullah SAW, paling getol mengikuti sunnahnya

Karenanya lafazh salaf digunakan untuk generasi para sahabat dan generasi berkutnya dari kalangan tabi’in dan tabi’ tabi’in. Cara mereka berdakwah dan menyampaikan risalah Islam menjadi kesan yang membekas di kalangan orang yang didakwahi sehingga mereka kembali kepangkuan Islam dengan senang setelah hati mereka luluh karena para da’i dan dakwah mereka yang santun dan menyentuh.

Jadi orang yang bermanhaj salaf itu adalah orang  yang memahami dan menjalankan Islam sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW dan para sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Mereka memahami Islam dengan pemahaman yang intregral bukan parsial dan sepotong-sepotong.

Bukan hanya klaim

Setiap orang mungkin saja mengklaim dirinya telah bermanhaj salaf, akan tetapi jangan sampai perbuatan, sikap dan dan akhlaqnya berseberangan secara nyata dengan yang diajarkan Islam itu sendiri.

Seringkali kita jumpai orang yang mengaku dirinya bermanhaj salaf tetapi saat bertemu saudaranya yang Muslim, wajahnya tidak ramah, mahal senyumnya, memberi salam hanya kepada sesama mereka saja. Mudah mengatakan sebuah ritual ibadah sebagai perbuatan bid’ah, mudah mengatakan orang ini fasik, munafik dan lain sebagainya, karena hanya berbeda dengan apa yang dia dan gurunya amalkan. Padahal bisa jadi sesuatu yang dituduhkan itu hanya masih dalam hal yang menjadi khilafiyah di kalangan ulama salaf sejak lama.

Seharusnya orang yang bermanhaj salaf itu dapat menjadi penyatu dan perekat umat Islam, menjadi pelopor terjalinnya ukhuwah Islamiyah dan bukan menjadi pemecah dan membuat resah antar umat Islam, khususnya antar pengurus masjid/mushalla dengan pengurus lainnya, baik di perumahan, perkampungan atau di perkantoran.

Kami sampaikan ini karena ada beberapa keluhan baik dari pengurus masjid atau pun majelis taklim terjadi kerenggangan dan perpecahan antara mereka lantaran ada pengisi pengajian atau ceramah yang dengan mudahnya menvonis ini bi’dah, syirik dan kata-kata yang ‘mengerikan’ lainnya. Prilaku ini tentu sangat jauh dengan manhaj ulama salaf yang sangat bijak dan santun dalam berdakwah dan bermu’amalah, khususnya kepada sesamaMuslim.


Banyak belajar

Tidak sedikit orang yang baru belajar beberapa tahun, bulan, pekan, bahkan baru beberapa hari saja dia belajar Islam atau mungkin saja baru dengar-dengar, seakan sudah menjadi seorang mufti dan ulama besar. Bisa jadi dirinya juga belum pandai membaca Al-Quran apalagi memahami Al-Quran seluruhnya, tidak hafal hadist kecuali hanya sedikit saja, atau mungkin tidak sedikit mengenal hadits hanya dari membaca sedikit terjemahannya saja.

lalu dengan mudahnya megatakan ini bid’ah, syirik dan ucapan semisalnya, padahal belum tentu demikian. Bahkan dengan merasa tidak berdosa saudaranya bahkan bapak dan ibunya divonis ahli bid’ah dan sudah syirik, nau’udzu billah.

karena kita harus banyak belajar dan belajar dengan banyak guru. Selanjutnya dengan belajar dan menuntut ilmu ini seharusnya kita semakin dewasa dalam bersikap, memahami fikih dakwah yang baik, matang dalam berfikir, semakin tawadhu’ dengan sedikit ilmu yang kita dapati, semakin hormat kepada guru dan ulama, semakin sayang kepada sesama muslim, menasihati dengan santun dan penuh kasih sayang, walau suatu saat juga dibutuhkan ketegasan dengan mengedapankan akhlaq sebagai seorang Muslim yang shalih.

Dengan pemaparan singkat ini semoga sudari penanya dan kita terus berusaha agar mampu menjadi penerus ajaran Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Meneruskan belajar dan mengajarkan ilmu dengan baik, bijak, santun, ramah, menyenangkan. Juga kita berusaha mempersatukan dan merekatkan umat Islam dalam bingkai ukhuwah Islamiyah dan bingkai aqidah shahihah. Sehingga Izzul Islam wal muslimin (kemuliaan Islam dan umat Islam) dan nilai-nilai Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin akan mampu tegak dan dapat dirasakan di bumi tempat kita berpijak, khususnya di bumi Indonesia yang kita cintai ini.  Hadanallahu waiyyakum ajma’in wallahu a’lam bishshawab.

th kecilUst. H. Taufik Hamim Effendi, Lc., MA

Note:

*Bila artikel ini bermanfaat silahkan segera share agar anda juga mendapat aliran pahala yang takkan pernah henti insya Allah

*Bila ada masukan dan koreksian serta pertanyaan silahkan berkomunikasi dengan saya, jazakumullah khairan katsiran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

6 + 2 =