Susah-Senangnya Kehidupan Kita

TaufikHamim – Susah-Senangnya Kehidupan Kita

Kehidupan manusia seperti roda yang berputar, kadang di atas kadang pula bergerak ke bawah. Suatu saat kita pada posisi dengan segala kemudahan hidup berupa rejeki yang melimpah, keluarga yang sehat, kebutuhan yang tercukupi, gaji dan karier yang terus meningkat. Tapi di saat yang lain kita akan merasakan kesempitan hidup berupa berkurangnya rejeki sehingga kita sulit untuk mencukupi kebutuhan-kebutuhan hidup kita, atau kita ditimpa penyakit, atau kesulitan dalam karier dan gaji yang berjalan di tempat, atau mungkin saja penghasilan kita tak cukup untuk memenuhi biaya pendidikan anak-anak kita, dan segala hal yang kita anggap sebagai kesusahan. Itulah siklus kehidupan,  ada masa kejayaan, ada pula masa kemunduran. Ada masa  kekayaan ada pula masa kemiskinan, ada masa sehat ada pula masa dimana kita terbaring sakit. Ingatlah firman Allah SWT:

{…… وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ}

…………“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.”  (QS. Ali Imron  140).

Sesungguhnya kita membutuhkan kesusahan dan kesempitan, agar kita mampu merasakan nikmatnya kemudahan dan kelapangan. Kita tidak akan merasakan nikmatnya suatu karunia Allah,  kecuali tatkala nikmat tersebut Allah cabut dari kita. Manusia tidak dapat merasakan arti dari  kesehatan, kecuali kalau setelah ditimpa suatu penyakit. Saat itu dia baru merasakan, enaknya badan yang sehat sehingga berharap cepat sembuh dari penyakitnya.

Manfaat dari siklus kehidupan antara susah dan senang agar kita mengetahui hikmah dan mengambil pelajaran dari setiap kondisi yang kita alami. Hikmah apa  yang bisa kita petik dari perjalanan hidup yang sillih berganti antara senang dan susah ?

  1. Mewujudukan ibadah yang ikhlas kepada Allah, baik dalam keadaan sempit maupun lapang. Saat kita ditimpa kesusahan, hendaknya kita bersabar. Sebaliknya saat kita merasakan kesenangan dan kemudahan seharusnya kita memperbanyak syukur kita kepada Allah SWT. Rasulullah menjelasakan hal ini dalam haditsnya:

 {عجباً لأمر المؤمن إن أمره كله له خيرٌ وليس ذلك لأحد إلا للمؤمن إن أصابته سراء شكر فكان خيراً له وإن أصابته ضراء صبر فكان خيراً له}

“Sungguh unik perkara seorang mukmin, sesungguhnya setiap perkaranya adalah kebaikan bagi dia. Jika dia ditimpa kesusahan maka dia bersabar dan itu baik bagi dia , jika dia ditimpa kesenangan  maka dia bersyukur dan itu kebaikan bagi dia” (HR. Muslim).

Maka dengan kesabaran tatkala susah dan rasa syukur ketika dikaruniai kesenangan, kita akan mewujudkan hakikat ibadah yang ikhlas.

  1. Memunculkan sifat kita yang sesungguhnya.

Adalah hal yang mudah kalau kita mengaku beriman, bersabar, bersyukur, hidup zuhd (sederhana), sebelum Allah timpakan ujian kepada kita. Tetapi dengan segala ujian hidup yang menimpa kita, maka akan kelihatan sifat asli kita. Siapa yang bersabar dan siapa yang tidak tahan ujian. Siapa yang beriman dan siapa pula yang ingkar.  Allah menjelaskan tujuan dari ujian dan bencana yang menimpa kita:

{أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ*وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ}

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?. Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta” . (Al-`ankabut 2-3).

  1. Ujian hidup mengembalikan kita  ke jalan Tuhan.

Kita kalau sedang ditimpa ujian dan kesusahan,  akan dengan mudah mengadu kepada Allah, bersimpuh memohon rahmat-Nya, ibadah kita meningkat, dan tidak segan-segan  untuk berdzikir serta berdoa kepadaNya, hati kita pun terpaut dengan Allah, jiwa kita tunduk kepada Sang Rabb memohon ampunan serta  pertolongan dari-Nya. Dengan itu semua kita kembali ke jalan orang-orang yang bertaqwa. Boleh jadi kalau Allah tidak menimpakan kesusahan dan ujian, kita semakin menyimpang dan tidak sadar dengan kemaksiatan kita kepada Allah.

  1. Musibah menghapus dosa-dosa kita.

Jangan kita sangka musibah yang menimpa kita, hanya menimbulkan kesusahan bagi kita.Tidak… Justru musibah dan kesusahan yang menimpa kita akan menghapus dosa-dosa kita. Rasulullah SAW menjelaskannya:

{ما يصيب المؤمن من وصب ولا نصب ولا سقم ولا حزن حتى الهم يهمه إلا كفر به من سيئاته}

“Apa-apa yang menimpa seorang muslim berupa kesusahan, musibahpenyakitkesedihan sampai kegundahan yang dirasakannyakecuali dengannya Allah menghapus keburukannya.”(HR.Muslim)

Lantas apa yang harus kita lakukan saat kita mendapatkan kesenangan dan nikmat dari Allah. Begitu juga bagaiman kita menyikapi ujian, musibah, dan segala kesusahan yang menimpa kita..??

  1. Bersabar tatkala susah, bersyukur ketika senang.

Allah telah meyuruh kita untuk bersabar dengan memperbanyak sholat agar pertolonganNya turun menghapus kesusahan dan kesedihan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (Al-Baqarah 153).

Inilah kesabaran yang akan mendatangkan barokah, rahmat dan petunjuk Allah kepada pelakunya:

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.“ (Al-Baqarah 155-157).

Setelah itu hati kita harus ridho terhadap segala bentuk pemberian Allah walaupun tidak sesuai dengan harapan kita. Serta kita tidak menolaknya baik dengan hati maupun lisan. Karena Allah Maha Berkehendak, Dialah Pemilik Kekuasaan yang mutlak, sedangkan manusia hanyalah bisa menerima segala ketentuanNya. Bagi Allah sah-sah saja untuk berbuat segala hal sesuai kehendakNya tanpa ada yang bisa menghalangi. Akan tetapi Allah itu Maha Bijaksana, terbebas dari kesia-siaan dan kebatilan dalam setiap perbuatanNya. Segala sesuatu yang Allah lakukan pasti ada hikmahnya dan kebenaran dibaliknya. Dan perlu kita ketahui, kalaupun Allah menetapkan ujian bagi kita maka itu adalah keadilanNya. Dan kalau Allah mengangkat ujian dan kesusahan kita, maka itu adalah karuniaNya

Apa yang harus kita lakukan saat Allah karuniakan kenikmatan kepada kita berupa kekayaan, kesehatan, kesenangan dan bentuk kenikmatan lainnya. Jawabnnya; SYUKUR dengan lisan berupa ucapan: Alhamdulillah. Maupun dengan perbuatan berupa :peningkatan ibadah kita, sholat kita, dzikir kita, zakat dan infaq kita. Dalam hal ini Rasulullah mengingatkan kita: “ Ingatlah Allah tatkala kamu senang, maka Allah akan mengingatmu tatkala susah”

Itulah sikap dan sifat yang harus ada pada seorang muslim-mukmin dalam segala kondisi kehidupannya. Jangan sampai kita termasuk kedalam sifat yang Allah sebut dalam ayat:

{إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا، إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعً،وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا}

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.” (Al-ma`arij 19-21)

Inilah sifat asli kita, berkeluh kesah saat susah, amat kikir saat kaya. Tetapi hanya dengan keimanan lah kita akan bersabar saat susah, dan bersyukur serta dermawan saat kita kaya.

Wallahu a`lam bish showab

nur sidik

Penulis: Kusworo Nursidik, Lc (Mahasiswa Program S2 jurusan Da`wah dan Peradaban – Islamic Call College Tripoli Libya). (infoislami)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

+ 63 = 71