Tips Menghadirkan Hati dan Khusyu’ Saat Tilawah Al-Quran

tilawahTaufikHamim – Tips Menghadirkan Hati dan Khusyu’ Saat Tilawah Al-Quran

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Afwan ustadz mohon sarannya, bagaimana cara yang efektif agar ketika tilawah hati kita benar -benar hadir dan khusyu’ ..

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

nia

Jawaban

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi wabarakatuh

Cinta kepada Al-Quran adalah kunci utama untuk dapat mentadaburi Al-Quran, karena cinta itu tidak akan lepas dengan masalah hati. Dan hati itu adalah satu ‘perangkat’ yang memiliki hubungan yang erat untuk bisa memahami Al-Quran. Hati kita ada di dalam genggaman Allah SWT, hanya Dia yang Maha mampu membolak-balikan hati kita. Karena kita sebagai hamba-Nya sangat membutuhkan hidayah dan bimbingan-Nya agar Dia membukakan hati kita ini untuk bisa ‘menyantap’ nikmatnya hidangan Al-Quran ini.

Kemudian kita juga harus menyadari, untuk apa kita membaca Al-Quran? Oleh karenanya saat membaca Al-Quran, usahakan hati kita ini hadir saat membacanya. Namun bagaimana kita dapat khusyu’ dan dapat mentadaburi Kalamullah ini?

Mari sama-sama kita meperhatikan kalimat berikut :
“Bacalah Al-Quran, seakan-akan dia diturunkan kepadamu”.

Ungkapan ini bukan hadits Rasulullah SAW apalagi Firman Allah SWT, ini hanyalah sebuah ungkapan manusia biasa seperti kita juga. Satu ungkapan yang keluar dari mulut seorang ayah kepada anaknya. Ungkapan yang mampu memberikan kesan mendalam di hati sang anak tercinta.

Saat tilawah atau membaca Al-Quran, kita harus berusaha merasakan bahwa diri kita sedang diajak berbicara oleh Allah SWT melalui ayat-ayat-Nya yang tertulis di dalam mushaf. Usahakan saat kita membaca ayat-ayat Al-Quran bahwa hanya untuk kitalah ayat-ayat itu di tujukan sehingga ketika kita melalui ayat-ayat rahmat dan kenikmatan kita berdoa kepada Allah agar mendapatkannya. Dan apabila kita membaca aya-ayat azab dan keburukan kita berdoa kepada Allah SWT agar kita dihindarkan darinya.

Ibu Nia yang dirahmati Allah SWT, membaca Al-Quran dengan penuh khusyu’ dan tadabbur sangat dianjurkan sekali oleh Allah SWT, bahkan bagi orang yang tidak mentadaburi Al-Quran disebut sebagai orang yang tertutup (terkunci) hatinya.

Perhatikan firman Allah SWT berikut :
أَفَلاَ يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوْبٍ أَقْفَالُهَا

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quraan ataukah hati mereka terkunci?”. (Q.S. Muhammad/48 : 24)

Bagaimana memahami makna tadabbur yang benar? Tadabbur adalah memikirkan dan memperhatikan ayat-ayat Al-Quran dengan tujuan agar kita dapat memahami maknanya, hikmah-hikmahnya dan maksud yang terkandung di dalamnya. Menurut salah seorang ulama, tadabbur juga memiliki arti mengamalkan, karena amal adalah buah dari tadabbur itu sendiri.

Ali bin Abu Thalib RA berkata : “Wahai pembawa risalah Al-Quran, wahai pembawa ilmu..beramal lah kalian; karena yang disebut orang berilmu adalah orang yang mengamalkan ilmunya”

Al-hasan Al-Bashri berkaya : “Tidak dikatakan mentadabburi ayat-ayat-Nya kecuali dengan mengikutinya (untuk diamalkan)”.

Selain meperhatikan adab-adab dalam membaca Al-Quran dan penjelasan di atas, juga ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar hati kita hadir saat membaca Al-Quran, agar kita khusyu’ saat ‘menyantap’ ni’matnya hidangan Al-Quran :

Pertama : Bacaan yang baik dan benar, apa bila kita mampu membaca Al-Quran dengan baik dan benar, maka beruntunglah kita; karena yang demikian itu akan dapat membantu kita khusu’ saat tilawah.

Kedua :memahami ayat yang kita baca. Diantara yang dapat membantu untuk bisa khusyu’ adalah memahami ayat yang kita baca. Untuk bisa faham ayat yang kita baca, bagi kita yang memiliki kemampuan Bahasa Arab dengan baik, maka kita bisa merujuk kepada kitab-kitab tafsir, terutama yang disusun secara ringkas, agar kita dapat faham walaupun hanya secara global saja. lalu, bagaimana bagi kita yang belum menguasai Bahasa Arab?, ada banyak cara untuk bisa faham isi atau kandunga ayat-ayat yang kita baca. Diantaranya dengan menggunakan Mushaf terjemahan.

Ketiga : Mengulang-ulang ayat yang sedang dibaca, baik itu ayat-ayat azab atau ayat ni’mat. Usahakan memahami makna ayat yang dibaca, kalau belum mamahami Bahasa Arab dengan baik, bisa dengan melihat terjemahan Al-Quran. Sehingga setiap kali kita membaca ayat Al-Quran kita bisa langsung dapat memahaminya. Ketika kita memahami ayat yang kita baca maka ini akan menambahkan kekhusyu’an kita.

Secara pribadi, saya tidak ingin menganjurkan ibu atau saya tidak pernah menganjurkan siapapun untuk belajar belajar menerjemahkan Al-Quran. Justeru saya menganjurkan murid dan teman-teman saya agar serius dan bersungguh-sungguh untuk belajar Bahasa Arab, baik secara intensif atau pun non intensif. Yang penting belajarnya berjalan secara rutin terus menerus. karena ketika kita sudah mampu berbahasa Arab dengan baik, selain bisa memahami Al-Quran, ibu juga bisa membaca kitab-kitab hadits dan literaratur Islam lainnya yang berbahasa Arab yang sampai saat ini menjadi rujukan para ulama di seluruh dunia. Namun kalau ibu belajar menterjemahkan Al-Quran dengan tidak memiliki bekal bahasa arab yang cukup, maka saya khawatir akan banyak jatuh dalam kesalahan saat memahami isi Al-Quran.

Keempat : Membaca Al-Quran dengan tartil, yaitu membacanya tidak terburu-buru, karena yang dituntut dalam membaca Al-Quran bukan saja banyaknya ayat yang kita baca, akan tatapi juga kualitas pemahaman terhadap Al-Quran. Dengan membaca Al-Quran secara tartil, maka kita akan mempu membacanya dengan khusyu’ dan akan dapat membantu kita dalam memahami ayat yang kita baca.

Kelima : Usahakan membacanya dengan suara yang jahar, keras, tapi tidak membuat orang disekeliling kita terganggu. Karena selain menambah kekhusyu’an saat menjaharkan tilawah Al-Quran, orang yang mendengarkan juga akan ikut mendapatkan pahala mendengar bacaan Al-Quran. Tentunya kita harus melepaskan diri kita dari sifat riya dan sum’ah saat membaca Al-Quran.

Dengan demikian, kalau kita dapat melaksanakan semua yang telah kita sebutkan di atas, insya Allah kita akan dapat membaca Al-Quran dengan penuh khusyu’ dan tadabbur. Mampu menyentuh dan menggetarkan hati kita yang membacanya dan hati orang yang mendengarnya.

Dengan khusyu’ inilah yang diinginkan dari kita saat membaca Al-Quran. Namun seseorang akan dapat khusyu’ bila mana dia dapat memahami ayat yang sedang dibacanya. Karena, sebenarnya inti dari tujuan membaca Al-Quran adalah bagaimana kita dapat membacanya dengan baik, memahami ayat yang kita baca, mantadaburinya dan khusyu’ saat membacanya. Kemudian kita mohon kepada Allah SWT agar diberikan kemampuan untuk dapat melaksanakan isi dan kandungan Al-Quran dalam kehidupam sehari-hari secara optimal.

Semoga jawaban singkat ini dapat membuat ibu dan kita semua khususnya para pengunjung  setia taufikhamim.name dan kaum Muslimin pada umumnya semakin bertambah cinta kepada Al-Quran dan dapat membuat kita bertambah khusyu’ saat membacanya. Dan juga dapat memberikan atsar (pengaruh) yang positif dalam diri kita, berupa perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik dalam menjalani hidup dan kehidupan di dunia sehingga kita memperoleh dua kebaikan sekaligus, kebaikan dunia dan kebaikan akhirat. Wallahu a’lam bishshawab

 والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

th kecil

Ust. H. Taufik Hamim Effendi, Lc., MA

Note: * Ingin berkonsultasi silahkan arahkan crusor anda ke menu Konsultasi.

** Bila artikel ini anda anggap bermanfaat silahkan segera share agar anda juga mendapat aliran pahala yang takkan pernah henti insya Allah + jangan lupa doakan penulis untuk kebaikan dunia dan akhirat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

+ 70 = 76