Ustadz Taufik Hamim: Para Penghafal Al-Quran Menjadi Pelopor Dalam Menghalau Pengaruh Asing

Penghafal Al-Quran (ilustrasi)

Penghafal Al-Quran (ilustrasi)

TaufikHamim – Al-Qur’an adalah mukjizat Rasulullah saw yang senantiasa menemani umat Islam hingga akhir zaman. Al-Qur’an adalah obat, petunjuk, pembeda yang haq dan bathil, dan pedoman umat Islam menjalani kehidupan. Interaksi dengan Al-Qur’an adalah kemestian apabila tidak ingin tersesat dari jalan yang lurus. Sejarah mencatat, kejayaan umat Islam berbanding lurus dengan tingkat interaksi umat dengan Al-Qur’an. Semakin tinggi interaksi umat Islam dengan Al-Qur’an, semakin jaya Umat Islam di zaman itu. Begitu juga sebaliknya.

Islamedia berkesempatan melakukan perbincangan online penuh hikmah bersama Ustadz H. Taufik Hamim Effendi. Beliau adalah Ketua Umum Yayasan Muntada Ahlil Quran. Yayasan ini merupakan wadah bagi para Pneghafal Al-Qur’an dari berbagai latar belakang pendidikan, lembaga dan daerah. Melakukan pemberdayaan para penghafal yang tergabung di dalamnya seperti Muraja’ah, Hafalan, Talaqqi Sanad, Tafsir Tematik, pelatihan pengajaran, dan lain-lain.

Sibuk di Yayasan ini menjadikan Ustadz Taufik Hamim adalah orang yang tepat untuk diwawancarai oleh Islamedia. Di sela-sela kesibukannya mengurus orang tua yang sakit dan sempat dirawat sembilan hari di Rumah Sakit (semoga Allah menyembuhkannya), Ustadz Taufik Hamim bersedia menjawab beberapa pertanyaan dari Islamedia. Kami suguhkan untuk anda.

Dalam surat Al-Furqon Ayat ke 30, Rasulullah mengadu bahwa umatnya meninggalkan Al-Qur’an (mahjuro), mengapa Rasulullah mengadu seperti itu?

Memang, kalau kita cermati ayat 30 dalam surat Al-Furqan ini, Rasulullah SAW mengadu kepada Allah SWT karena sikap dan perlakuan kaum musyrikin yang telah mengabaikan seruannya dan juga mencampakkan Al-Quran. Mereka telah mengacuhkan Al-Quran dalam beberapa bentuk diantaranya: mereka tidak mau mengimani Al-Quran, mereka tidak mau mendengarkan Al-Quran, bahkan mereka menolaknya dan mengatakan bahwa Al-Quran adalah ucapan dan bualan Muhammad si tukang syair dan sihir . Kaum musyrikin juga berusaha untuk mencegah orang-orang yang berusaha mendengarkan Al-Quran dan dakwah Rasulullah SAW.

Apa ciri-ciri seseorang disebut mahjuro/meninggalkan Al-Qur’an? Bagaimana interaksi ideal seorang muslim terhadap Al-Qur’an agar tidak disebut mahjuro?

Ada banyak ciri dan bentuk hajru Al-Quran (mengabaikan dan meninggalkan Al-Quran), diantaranya sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah dalam kitabnya Al-Fawaid, beliau menjelaskan kalau bentuk meninggalkan Al-Quran itu ada beberapa macam, Pertama: Tidak mendengarkan dan mengimaninya. Kedua: Tidak mengamalkannya, tidak peduli dengan halal dan haram suatu perkara, walau Al-Quran dibaca dan imaninya. Ketiga: tidak berhukum dan mengambil hukum dari Al-Quran. Keempat, meninggalkannya dengan tidak mentadabburi, memahaminya dan mengetahui maksud dari apa yang disampaikan Allah dalam ayat-ayat-Nya. Kelima : Meninggalkan dalam arti tidak menjadikan Al-Quran sebagai obat bagi penyakit-penyakit hati.

Dari penjelasan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah ini, tentunya kita tidak ingin termasuk dalam kategori orang yang meninggalkan Al-Quran, seperti halnya kaum musyrikin tersebut, maka kita harus meninggalkan kelima bentuk hajrul Quran ini.

Untuk seorang da’i, tentu saja interaksinya terhadap Al-Qur’an harus lebih baik dibanding masyrakat pada umumnya. Bagaimana bentuk interaksi yang ideal antara seorang da’i dengan Al-Qur’an?

Seorang da’i adalah panutan bagi orang yang didakwahinya, jadi interaksi seorang dai harus memiliki nilai lebih. Sebagai contoh, kalau masyarakat membaca Al-Quran satu dua lembar dalam sehari, seorang da’i harus membaca Al-Quran ½ sampai 1 juz minimal dalam sehari. Kalau mereka hanya pandai membaca Al-Quran, seorang da’i harus pandai dan faham serta dibarengi dengan pengamalan, demikian seterusnya.

Namun ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh seorang da’i dalam berinterkasi dengan Al-Quran. Diantaranya adalah :

Membaca Al-Quran secara kontiniu. Seorang da’i, seharusnya memiliki wirid Al-Quran, atau bacaan Al-Quran secara kontiniu setiap hari, walaupun hanya sedikit yang dia baca, namun bila mana ini terus menerus dikerjakan maka di masa yang akan datang akan mengalami peningkatan dari segi kuantitas bacaan, dan ini yang paling ideal. Sehingga paling tidak bila dalam satu hari Al-Quran dibaca satu juz, dengan rincian setiap sehabis shalat fardhu yang dibaca 2 lembar (4 halaman) x 5 = 10 lembar (20 halaman), karena setiap juz Al-Quran rata-rata 20 halaman atau 10 lembar bila kita mengacu pada mushaf cetakan timur tengah. Selanjutnya dalam tempo 30 hari akan rampung tilawah Al-Quran sebanyak 30 juz.

Membacanya dengan tadabbur. Al-Quran juga diturunkan untuk ditadabburi. Tadabbur Al-Quran adalah memperhatikan ayat yang kita baca, merenungi dan menghayatinya sehingga akan dapat memahaminya dengan baik, mengetahui maksud isi dan kandungannya secara mendalam.

“Ini adalah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya orang-orang yang berakal mendapat pelajaran”. (QS. Shad : 29)

Menghafalnya. Menghafal Al-Qur’an sangat mudah. Allah SWT menjamin hal itu dalam surat Al-Qamar dalam empat ayat yang berbeda (17, 22, 32, 40). Secara tegas Allah SWT berfirman :

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran (diingat), maka adakah orang yang mengambil pelajaran”.

Langkah ini akan lebih efektif, bila kita memulainya setelah bacaan Al-Qur’an kita sudah baik dan tentunya harus dengan bimbingan seorang penghafal Al-Qur’an.

Selain para penghafal Al-Quran adalah orang-orang pilihan Allah SWT. Mereka juga mendapat banyak perhatian khusus dari Rasulullah SAW.

Dalam menghafal Al-Quran, yang paling ideal adalah menghafal seluruh Al-Quran yaitu 30 juz. Walau demikian, mereka yang menghafalnya tidak sampai sempurna, namun tetap saja mereka akan mendapatkan kemulian, walaupun hanya menghafal beberapa juz atau beberapa surat.

Memahaminya. Selain dibaca dan dihafal, yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana kita bisa memahami Al-Quran, kita berharap dapat memahami ayat-ayat kita baca dan yang sudah kita hafal. Dalam memahami Al-Quran tentunya satu orang dengan orang lainnya memiliki kualitas pemahaman yang berbeda, mulai dari memahami kosa kata, memahami secara global dan memahami secara mendalam dengan penuh tadabbur.

Mengamalkannya. Yaitu tidak kalah penting adalah bagaimana membiasakan diri kita agar selalu terjaga dalam mengamalkan isi dan kandungan Al-Qur’an. Orang yang selalu berinteraksi dengan Al-Qur’an, lalu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-harinya, maka seakan-akan dia adalah “Al-Qur’an berjalan”. Dan pengamalan Al-Quran bisa melingkupi ruang pribadi (internal), yaitu setiap individu dapat berusaha untuk mengamalkan Al-Quran. Setelah itu diiringi dengan pengamalan ruang lingkup eksternal (mengajak orang lain)

Salah satu interaksi terhadap Al-Qur’an adalah mentadaburinya. Tetapi ada peringatan dari Rasulullah bahwa kita tidak boleh berbicara tanpa ilmu tentang Al-Qur’an. Apa rambu-rambu tadabur terhadap Al-Qur’an agar tidak mendapatkan hasil perenungan yang salah atau menyimpang?

Ada banyak rambu yang harus diperhatikan, atau perangkat yang harus dimiliki agar tadabbur kita kepada Al-Quran tidak menyimpang, diantaranya adalah :

Pertama : Menguasai Bahasa Arab sebagai perangkat utama dalam memahami Al-Quran, karena Al-Quran diturunkan dengan bahasa Arab.

Kedua : Memiliki pemahaman Al-Quran minimal secara global, sehingga dapat memahami dan mentadabburi Al-Quran dengan benar sejalan dengan pemahaman ahli tafsir.

Ketiga : Biasa mengamalkan isi dan kandungan Al-Quran dalam kehidupannya, melaksanakan perintah Al-Quran dan menjauhi segala yang dilarannya. Imam Hasan Bashri mengatakan : “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian memandang Al-Quran bagaikan surat yang dilayangkan dari Tuhan mereka, mereka mentadabburinya di malam hari dan mengaplikasikannya di siang hari”.

Keempat : Memperbanyak tilawah Al-Quran ikhlas karena Allah SWT, karena dengan banyaknya tilawah Al-Quran akan semakin mengakrabnya diri pembaca dengan al-Quran, dan dari sini tidak menutup kemungkinan Allah SWT akan memudahkan dia untuk memahami dan mentadabburi Al-Quran secara benar.

Kelima : Mengetahui rasm (jenis tulisan) Al-Quran dan batasan-batasannya serta memiliki pemahan tajwid yang baik diantaranya faham betul tanda waqof atau mengerti kapan kapan dia harus berhenti saat tilawah Al-Quran. Karena bila mana ini tidak diperhatikan bisa jadi akan salah dalam memahami Al-Quran.

Keenam : Memperbanyak bangun malam, terutama di sepertiga malam terkahir untuk shalat tahajjud dan membaca Al-Quran dalam shalat, karena waktu tersebut sangat tepat untuk bisa mentadabburi kalamullah.

Bentuk interaksi yang lain adalah menghafal Al-Qur’an. Ada banyak alasan orang-orang menghindari menghafal Al-Qur’an seperti sibuk tak punya waktu dan ada juga yang mengaku mempunyai hafalan yang lemah. Sebatas apa uzur bagi seseorang untuk tidak menghafal Al-Qur’an?

Menghafal Al-Quran hukumnya fardhu kifayah, bila seorang Mukmin dalam jumlah yang cukup sudah mampu untuk menghafalnya, maka gugurlah kewajiban Mukmin lainnya, namun demikian penghafal Al-Quran adalah hamba-hamba pilihan Allah SWT dan banyak memiliki kelebihan dibandingkan dengan orang yang tidak hafal Al-Quran.

berikutnya tidak ada udzur bagi seorang Mukmin untuk tidak hafal Al-Quran, minimal surat yang dia baca di dalam shalatnya, seperti surat Al-fatihah. Jadi kalau ada pertanyaan sebatas apa udzur seseorang untuk tidak menghafal Al-Quran, maka ini kembali kepada pemahaman pribadi seseorang. Apakah dia ingin mendapatkan kelebihan dan keutamaan yang akan didapat bila ia hafal Al-Quran.

Namun bagi seorang dai, harus hafal Al-Quran, walau tidak semuanya, (30 juz idealnya), atau bisa beberapa juz atau minimal dia hafal dan faham benar tafsir dari ayat-ayat yang sering dijadikan dalil dalam dakwahnya, namun yang terpenting ada mampu untuk beristidlal dan berintinbath dengan benar dari ayat yang dia jadikan dalil, jangan sampai timbul seakan ayat ini tidak relevan lantaran seorang dai kurang tepat dalam menempatkan ayat pada suatu perkara.

Apa pengaruh interaksi Al-Qur’an pada kepribadian seorang mukmin?

Orang Mukmin yang berinteraksi kepada Al-Quran akan memiliki perbedaan bila dibandingkan dengan mereka yang tidak. Pengaruh interaksi kepada Al-Quran itu akan Nampak jelas dalam kehidupan nyata kita. Al-Quran akan selalu menjadi inspirasi utama dalam keseharian kita. Mari kita tengok bagaimana gambaran diri Tauladan kita Rasulullah SAW, sebagaimana yang digambarkan secara singkat oleh isteri beliau Aisyah RA, “Akhlaqnya adalah Al-Quran”. Jelas ini adalah kalimat yang singkat namun maknanya sangat dalam sekali. Demikian pula dengan para sahabat beliau, mereka adalah generasi pertama dan utama, generasi Al-Quran yang unik.

Adakah perbedaan interaksi umat Islam terhadap Al-Qur’an saat kejayaan Islam pada abad pertengahan dengan saat umat Islam lemah sekarang ini?

Dahulu, umat Islam lebih mudah untuk mengamalkan isi dan kandugan Al-Quran bila dibandingkan dengan menghafalnya. Karena mereka selalu membarengi hafalan dengan pengamalan. Dan tentunya ini akan terlihat sesuai dengan perkembangan zaman, semakin dekat kiamat, semakin banyak kerusakan di muka bumi dan semakin banyak pula umat yang meninggalkan Al-Quran. Namun demikian kita tidak ingin termasuk orang-orang yang akan meninggalkan Al-Quran.

Kita sering mendengar berita mengabarkan bahwa di tanah Palestina banyak terdapat huffazh (para penghafal Al-Qur’an). Adakah pengaruhnya keberadaan para hufazh itu di negeri yang sedang bergejolak?

Para penghafal Al-Quran akan menjadi pelopor utama dalam menghalau pengaruh asing yang ingin memperburuk citra Islam. Sebagai contoh para sahabat RA adalah para penghafal Al-Quran, dan mereka adalah para pejuang/mujahid yang berada di garda terdepan dalam menghalau kaum yang mengganggu dan memushi Islam dengan berbagai macam cara. Ini dapat terlihat dalam perang Yamamah, dimana sebanyak 70 sahabat penghafal Al-Quran yang syahid di medan tempur tersebut.

Di Palestina khususnya di Gaza, para penghafal Al-Quran mereka yang jumlahnya tidak kurang dari 5.000 Huffazh siap menghalau masuknya tentara zionis yang telah dan akan mengganggu negeri para mujahid tersebut.

Umat Islam di Indonesia saat ini dilanda kemiskinan dan di bawah bayang-bayang dominasi musuh Islam. Bagaimana ustadz memandang kondisi interaksi umat Islam Indonesia dengan Qur’an? Dan apakah interaksi yang baik dengan Al-Qur’an itu menjadi jawaban untuk kebangkitan umat Islam Indonesia?

Memang tingkat interaksi umat Islam di Indonesia masih belum memenuhi harapan kita, namun demikian sudah banyak kemajuan sejak 20an tahun terkahir ini, walau pun yang lebih terlihat baru hanya sebatas interaksi mereka dalam bentuk membacanya. Dan tentunya bila tingkat interkasi umat Islam ini baik dan meningkat terus, maka kita sangat yakin bahwa ini akan menjadi bahan bakar kebangkitan umat Islam di Indonesia. Dan sudah sejak lama Rasulullah SAW isyaratkan bahwa Allah SWT akan angkat dan tinggikan orang-orang yang selalu beriterkasi kepada Al-Quran secara menyeluruh.

“Sesungguhnya Allah akan mengangkat banyak umat dengan Al-Quran ini dan akan merendahkannya dengan Al-Quran pula”.

Apa pesan-pesan ustadz kepada pembaca Islamedia?

Selalu berpegang teguh kepada Al-Quran, mulai dari diri kita, pelajari, dibaca setiap hari siang dan malam, amalkan, ajarkan orang lain dan berdaalah kepada Allah agar Al-Quran senantiasa menjadi penyejuka hati kita. Juga jangan lupa agar kita selalu dekat dengan Al-Quran, jadikan Al-Quran ‘teman’ dan yang tidak akan pernah kita jauhi. Semoga atas izin Allah, di hari kiamat kelak kita semua akan mendapatkan syafaat Al-Quran.amin (islamedia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

32 + = 35